Koalisi Besar Bukan Kutukan, Tetapi Anugerah

IMG 20241023 222833

“Anak-anak NTT tidak boleh terjebak dalam kolam kecil di daerah!,” tegas Melki.

Langkah lain dari konsep kolaborasi ini adalah memastikan orang-orang NTT yang telah besar di luar NTT dari berbagai matra hidup turut ‘pulang kampung’ baik dari sisi pemikiran, investasi langsung, pun tenaga untuk berkontribusi bagi NTT. Tidak sedikit orang NTT yang telah tampil sebagai ahli dan praktisi di bidangnya masing-masing yang bisa diajak untuk berkolaborasi.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kolaborasi dalam pemahaman Melki-Johni kemudian lebih luas berarti mengajak orang-orang lain non-NTT, baik itu sektor swasta maupun lembaga pemberdayaan (NGO/LSM) dan civil societies, untuk terlibat aktif dalam menyelesaikan sejumlah persoalan di NTT.

Kolaborasi itu kemudian juga mendapatkan spirit-nya dalam kerja-kerja birokrasi lokal di level pemprov NTT. Birokrasi perlu responsif dan adaptif dengan kondisi sosiologis, konteks dan gelaja alam di NTT. Melki-Johni menyiapkan dua skema dan model birokrasi: untuk keperluan situasi normal dan untuk menghadapi krisis seperti bencana dan wabah yang bisa datang tiba-tiba.

Pernyataan Melki-Johni ini datang dari pengalaman mereka sebagai anggota DPR-RI yang tercatat sukses dalam menyelesaikan masalah wabah pandemi covid-19 kali lalu dan penyelesaian sejumlah dampak bencana alam di NTT saat Johni menjabat sebagai Kapolda NTT. Pemimpin yang berbicara dari pengalaman biasanya terdengar jauh lebih otentik dengan bahasa-bahasa yang sederhana, mudah dipahami dan terukur. Itulah yang ada pada pasangan Melki-Johni.

Pos terkait