Sebagai tambahan, menarik untuk melihat cara cawagub Johni Asadoma memetakan persoalan dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepadanya dalam debat. Dengan metode membuat tanda kurung (bracketing) pada inti-inti persoalan, Johni selalu tampil dengan jawaban dan komentar yang clear dengan kemampuan cara berpikir kritis-distingtif. Cara berpikir seperti ini pastilah datang dari orang yang terlatih untuk berpikir secara strategis, efektif dan oleh karena itu: jitu!
Hilirisasi: Solusi bagi NTT!
Dengan memperlihatkan sempit dan terbatasnya ruang fiskal NTT, Melki-Johni secara tepat membidik: NTT sedang tidak baik-baik saja. Secara global, selalu ada potensi resesi. Secara nasional, kerja satu garis lurus dengan pusat adalah keharusan. Secara lokal, kita masih punya banyak pekerjaan rumah (PR) di birokrasi, etos kerja kewirausahaan, dan mentalitas masyarakat secara umum. Maka, hilirisasi menjadi penting. Bagaimana?
Hilirisasi berarti membuat nilai tambah bagi semua potensi yang ada dan bisa dihasilkan di daerah agar lebih bernilai ekonomis. Mendapat perhatian lebih dari kebijakan-kebijakan pemerintah pusat–terutama dari kementerian teknis, menggalang kolaborasi, dan memastikan kerja sama strategis dengan sejumlah pihak adalah pilihan sikap yang lebih bijak.
Melki-Johni tahu betul bahwa untuk itu semua kesehatan masyarakat dan kesempatan pelatihan kerja adalah keharusan. Beruntungnya bahwa dua hal itu yang telah lama dilakukan oleh Melki dengan memfasilitasi pembangunan sejumlah fasilitas kesehatan dan balai latihan kerja. Hilirisasi hanya bisa direalisasi jika masyarakat sehat dan kreatif, birokrasi responsif dan adaptif, peluang kerja kolaboratif terbangun secara strategis.





