Koalisi Besar Bukan Kutukan, Tetapi Anugerah

IMG 20241023 222833

Oleh Agustinus Tetiro

Setelah menyimak debat pertama calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (cagub-cawagub NTT), kita semua pasti memiliki berbagai penilaian dan pertimbangan untuk mendukung salah satu calon. Saya menaruh perhatian pada calon nomor urut 2 (dua) Emanuel Melkiades Laka Lena dan Johni Asadoma, terutama dalam tulisan singkat ini, soal alur berpikir keduanya. Pasangan calon Melki-Johni menyematkan semangat besar: “Ayo Bangun NTT”

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Sejak awal diberi kesempatan untuk menyatakan visi-misi, Melki telah menunjukkan cara pandang tidak biasa atas NTT dengan memperlihatkan posisi provinsi ini sebagai bagian paling selatan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurut Melki, hal ini perlu diberi perhatian, karena pada hakikatnya Indonesia dengan presiden dan kabinet baru berkepentingan langsung untuk menjaga daerah perbatasan secara strategis dan bila perlu produktif bagi kepentingan bangsa dan warga negara, terutama warga setempat dan masyarakat lokal.

Melki tahu betul bahwa pemerintahan provinsi (pemprov) adalah representasi dari pemerintah pusat yang ada di daerah. Dengan demikian, gubernur adalah tanda kehadiran presiden di daerah. Oleh karena itu, untuk menjawab pertanyaan salah satu cawagub yang mencurigai koalisi gemuk (11 partai) sebagai peluang untuk praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN), Melki tampil dengan jawaban elegan yang lebih meyakinkan, penuh optimisme dan membawa harapan: “Koalisi besar yang sejalan dengan pemerintah pusat dan Jakarta adalah anugerah baik NTT di tengah terbatas dan sempitnya ruang fiskal kita!”

Pos terkait