Oleh P. Kons Beo, SVD
Sungguh satu rasa hati penuh sukacita. Tak peduli, entah jadi pimpinan grup. Atau pun ‘sekedar’ di tempat kedua. Intinya, terhitung telah masuk lingkaran 16 besar adalah kebanggaan.
Namun, sejak saat fase 16 besar itulah rasa penuh bangga itu mesti dijaga. Laga hidup-mati mesti dimainkan. Sebab mesti ada yang dinyatakan ‘menang’ dari apa yang disebut ‘kalah.’ Pun sama sebaliknya.
Maka arena laga, stadion, segera jadi arena saling jagal. Atau bertarung jadi pemenang, atau sebaliknya jadi korban. Di stadion batas antara menang dan kalah cuma berdurasi 90 menit plus waktu tambahannya.
Semua mesti berpacu dalam waktu. Untuk berharap tiba pada puncak kemenangan. Tetapi, bukankah saat masuk arena laga, 22 pemain itu rela ‘titipkan dulu rasa sukacita dan harapan’ pada penyelenggara?
Tetapi, itu sebenarnya ironi dari sepakbola. Semisal bola yang sudah dikuasai sepenuhnya. Namun ia mesti dijarakkan. Disepak menjauh untuk dikejar-kejar lagi. Seperti itu pula tim yang mesti rela lepaskan sementara rasa sukacita. Lalu berharap kuat untuk meraihnya kembali.
Maka, stadion benar-benar jadi arena duel seru. Tak ingin rasa sukacita itu dirampas pergi begitu saja. Stadion benar-benar jadi arena judi perasaan, harga diri dan nama besar. Di situ, batas antara senyum-tawa dan pahit di hati begitu tipis. Antara sukacita dan tunduk terlesu sekian ringkih.
Stadion adalah arena batasan yang mesti jadi jelas dan pasti. Antara kedua tim, dan antara para pemain dan suporternya. Namun, stadion juga adalah batasan dua aroma hati penuh rasa berseberangan.






