Sebab di arena laga, stadion misalnya, Neymar dkk bisa saja berkreasi dalam goyang Samba seterusnya. Sebab, semuanya bisa segera berubah pada titik paling berlawanan. Neymar dkk, di stadion itu, mesti rasakan pahitnya kekalahan. Brazil, sebenarnya, tak dihakimi siapa-siapa. Mereka hanya dihakimi oleh sukacitanya sendiri. Sebuah nilai yang teramat mahal harganya.
Harga satu pertandingan hidup-mati seakan tak mau peduli dengan ‘nama besar tim mana pun.’ Ia memangsa siapapun yang tak cerdas dan yang tak berjuang. Bahkan ia bisa membatalkan satu kemenangan yang telah di depan mata.
Di laga hidup mati, sederetan tim, satu demi satu pasti akan gugur. Tertunduk lesu. Dan akan tinggalkan stadion. Tak hanya membekaskan stadion dengan keringat bercucuran. Sebab mesti ada linangan air mata yang membasahi.
Dan pada akhir ceritanya nanti, hanya ada satu yang menjadi juaranya. Sebab, semua yang lainnya hanya sisakan air mata. Hanya air mata. Iya, termasuk Ronaldo, CR 7, yang telah tinggalkan kenangan penuh pilu. Dan mungkin untuk perhelatan Piala Dunia terakhirnya baginya?
Jika dunia ini adalah satu stadion penuh pertarungan kehidupan, maka di situlah kisah-kisah rasa hati kita mudah berubah. Sejenak kita bisa menari, namun sejenak pula kita bisa pula ‘terkubur’ dalam tangisan. Bagaimanapun semuanya mesti terjadi.
Tak ada yang dapat membatalkannya. Sebab, untuk semuanya, “Hanya Tuhan yang tahu. Apa gerangan yang bakal terjadi lagi…?”
Verbo Dei Amorem Spiranti
Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma






