Oleh : Pater Kons Beo, SVD
Di titik-titik monster kobaran api itu….
Tak ingin kutuduh Tuhanku pendendam dan penghukum. Tidak!
IA bukan Tuhan penumpas. Bahkan dalam ‘mungkin’ sekalipun…
Tuhan ku dan Allah ku tetaplah ALLAH KASIH.
Tak ingin pula lebih kubenarkan imanku. Hanya karena kuyakin Tuhanku ada di pihakku. Untuk pukul-ratakan dan membalas semua yang kuanggap bejat, asusila, laknat, penuh nista, durjana, dan kafir.
Tidak! ‘Tuhan tak pernah menghukum, walau IA punya sinar mata yang lebih tajam dari matahari….’
Kepiluhan Los Angeles tak hendak aku ‘tuhankan’ dalam hukuman dan amarah. Pun dalam dendam, kebinasaan, dan kekejaman.
Los Angeles pun tak tega cepat-cepat aku kembarkan dalam potret ‘Sodom dan Gomora.’ Tidak…
Tak hendak segera aku berlari pada Tuhan. Untuk serius menuduh atau mendampratNya yang bukan-bukan pun membenarkanNya yang keterlaluan.
Toh, yakinku seperti yakin, “Ini bukan hukuman. Hanya satu isyarat…..”
Dunia mesti kembali pada riak dan gelora hidupnya di arus zaman. Pun manusia mesti kembali pada alam batinnya yang berujung pada sikap dan tindakannya.
Los Angelos adalah kisah bumi yang tentu ditatap Mata Langit yang pantulkan selaksa tanya:
-karoseri politik kah?
-strategi militer kah?
-jebakan ekonomi kah?
-gelora sosial….kah?
Yang semuanya pada rapuh dan tak kokoh?
Atau kah bahwa masih ada sekian banyak ranjau dan jebakan nista yang telah dan bakal terus mengancam?
Bagaimana pun Los Angeles telah jadi kisah pilu menyayat.
Semuanya telah berlalu di kisah kobaran api di ‘tanur bumi Los Angeles.’






