May Day Tak Sekadar Tanggal Merah

ANSEL ATASOGE2

Untuk konteks Indonesia, ‘hari yang penuh makna’ ini telah dirayakan sejak 1918. Kini, diperingati sebagai hari libur nasional untuk menghormati peran pekerja dalam pembangunan bangsa. Inilah inti dari ‘tanggal merah’ 1 Mei itu.

Untuk masa kini, ia tidak berhenti pada peringatan historis. Dari kaca mata filosofis, ia boleh dipandang sebagai ‘ekspresi filosofis’ tentang martabat manusia sebagai subjek. Martabat itu kini hendak dikeluarkan dari posisinya sebagai ‘obyek produksi’.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kaum humanis memandang setiap pekerja sebagai pribadi yang memiliki nilai intrinsik yang tak boleh direduksi hanya sebagai ‘faktor produksi’. May Day mau mengingatkan bahwa keadilan sosial mensyaratkan pengakuan akan hak-hak dasar setiap manusia. Pengakuan itu terejawantah dalam upah yang layak, waktu istirahat yang memadai dan lingkungan kerja yang manusiawi. Jika diringkas, sejatinya buruh bukan alat, melainkan manusia yang berhak atas kehidupan yang bermartabat.

Dalam kerangka pemikiran Marx, May Day merepresentasikan kesadaran kelas (class consciousness) dan perjuangan dialektis melawan alienasi. Pekerja yang teralienasi dari hasil kerjanya, dari proses produksi, dan bahkan dari diri sendiri, menemukan suara kolektifnya melalui solidaritas. Karenanya, May Day adalah momen reflektif. Apakah sistem ekonomi saat ini masih membebaskan manusia? Ataukah, justru memperbudaknya dalam wajah yang baru?

May Day juga dapat dibaca melalui lensa ‘etika solidaritas’. Bahwasanya, kesejahteraan individu tidak terpisah dari kesejahteraan kolektif. Dalam konteks Indonesia, nilai ini selaras dengan Sila Kelima Pancasila: “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Di titik ini, May Day mengajak kita merenung. Apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan oleh mereka yang memproduksi nilai tersebut?

Pos terkait