Di mana-mana dalam setiap kunjungannya ke masyarakat belakangan ini, Melki selalu menyatakan terima kasihnya kepada masyarakat yang kembali memilihnya ke DPR RI, memilih para caleg dari partai Golkar ke DPR (RI/D).
“Terima kasih kepada bapa, mama, basudara semua yang telah kembali memilih saya ke DPR RI, juga sudah memilih para caleg dari Partai Golkar. Saya memberitahu bapa mama semua, bahwa saya mendapat tugas baru lagi dari partai, yakni maju ke Pilgub NTT. Saya mengucapkan terima kasih atas pengertian, atas pemakluman dari bapa mama semua. Saya mohon restu, dukungan dan doa untuk tugas baru ini,” kata Melki disambut tepukan tangan ratusan jemaat di Gereja Emaus, Liliba, Kupang, Rabu (19/6/2024) lalu.
Ketika Ketua Golkar NTT ini mengatakan ’mendapat tugas baru dari partai’, sontak muncul pertanyaan. Untuk apa mendapat tugas baru lagi? Mengapa rela melepas kursi anggota DPR RI yang sudah digenggam lagi untuk kedua kalinya? Kasarnya, mengapa harus membuang lagi nasi di piring?

Pertanyaan-pertanyaan gugatan seperti ini juga dihadapi Melki. Kalau ogah melepas kursi terpilih, kalau ingat nasi di piring, Melki sudah pasti tidak bakal menerima tugas baru dari partai. Dia sudah ‘aman’ dengan kursinya di DPR RI. Dia juga sudah nyaman dengan capaiannya.
Tetapi ketika dengan kesadaran penuh dan gagah berani memproklamirkan diri maju di Pilgub NTT, Melki ingin menegaskan bahwa sikap, pilihan dan tugas untuk maju itu pada galibnya merupakan sebuah panggilan tugas yang sifatnya imperatif. Sifatnya perintah. Tepatnya imperatif moral.







