Selanjutnya, jika maju di ajang Pilgub NTT merupakan imperatif moral, maka Melki juga sekaligus menegaskan bahwa jabatan publik seperti kepala daerah niscaya merupakan sebuah modus menjadi (to be), bukan modus memiliki (to have). Pada modus memiliki, seseorang akan dengan pongah berkata, “Saya adalah apa yang saya punyai”. Sebaliknya pada modus menjadi, seseorang akan dengan rendah hati berkata, “Saya adalah apa yang saya perankan.”
Dalam modus memiliki, kebahagiaan seseorang terletak pada superioritasnya terhadap orang lain dan kesanggupan untuk menaklukkan, bahkan merampas milik orang lain. Sebaliknya dalam modus menjadi, kebahagiaan seseorang terletak pada kepedulian, empati, simpati, membagi dan memberi diri dan apa yang dimiliki kepada orang lain.
Semua sepak terjangnya di DPR RI, kepedulian dan perhatiannya untuk warga NTT yang mewujud dari begitu banyak sarana dan prasarana kesehatan, juga kunjungannya yang begitu sering ke masyarakat, tak pelak lagi menempatkan Melki sebagai sosok yang menjadikan jabatan publik dalam modus menjadi, bukan modus memiliki.
Dengan kondisinya seperti hari ini, NTT butuh sosok pemimpin yang mau mendermakan diri, rela membaktikan panggilannya untuk menjadi seorang pelayan, bukan seorang tuan. Untuk maksud ini, Golkar sudah menugaskan Melki Laka Lena pimpin NTT lima tahun ke depan. (*)
- Wartawan, tinggal di Kupang







