Melki Laka Lena Dan Modus ‘Menjadi’

melki laka lena2
Melki Laka Lena dalam suatu kesempatan memimpin rapat Komisi IX DPR RI

Selanjutnya, jika maju di ajang Pilgub NTT merupakan imperatif  moral, maka  Melki juga sekaligus menegaskan bahwa jabatan publik seperti kepala daerah  niscaya merupakan sebuah modus menjadi (to be), bukan modus memiliki (to have).  Pada modus memiliki, seseorang akan dengan pongah berkata, “Saya adalah apa yang saya punyai”. Sebaliknya pada modus menjadi, seseorang akan dengan rendah hati berkata, “Saya adalah apa yang saya perankan.”

Dalam modus memiliki, kebahagiaan  seseorang terletak pada superioritasnya terhadap orang lain dan kesanggupan untuk menaklukkan, bahkan merampas milik orang lain. Sebaliknya dalam modus menjadi,  kebahagiaan seseorang terletak pada kepedulian, empati, simpati, membagi dan memberi diri dan apa yang dimiliki kepada orang lain.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Semua sepak terjangnya di DPR RI,  kepedulian dan perhatiannya untuk warga NTT yang mewujud dari begitu banyak sarana dan prasarana kesehatan, juga  kunjungannya yang begitu sering ke masyarakat,  tak pelak lagi menempatkan Melki sebagai sosok yang menjadikan  jabatan publik dalam modus menjadi, bukan modus memiliki.

Dengan kondisinya seperti hari ini, NTT butuh sosok pemimpin yang mau mendermakan diri, rela membaktikan panggilannya untuk menjadi seorang pelayan, bukan seorang tuan. Untuk maksud ini, Golkar sudah menugaskan Melki Laka Lena pimpin NTT lima tahun ke depan.  (*)

  • Wartawan, tinggal di Kupang

Pos terkait