Menurut Gubernur, peristiwa ini bukan semata-mata tragedi keluarga, melainkan kegagalan kolektif berbagai sistem baik pemerintahan, sosial, budaya, keagamaan, dan pendidikan dalam mendeteksi lebih dini serta memberikan pertolongan yang cepat dan tepat kepada warga yang membutuhkan, terutama anak-anak dan keluarga kurang mampu.
Sejak menerima informasi kejadian tersebut, Gubernur NTT telah berkoordinasi langsung dengan Bupati dan Wakil Bupati Ngada, serta jajaran pemerintah dan unsur non-pemerintah di daerah. Pemerintah memastikan proses pemakaman dilakukan dengan layak serta mendorong penyelesaian seluruh persoalan sosial dan adat yang menyertai peristiwa ini.
Gubernur bergerak cepat untuk menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah dari tingkat provinsi hingga desa termasuk Camat, Lurah, Kepala Desa, RT/RW serta mengajak tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, dan perempuan untuk bersama-sama aktif mendata dan memastikan tidak ada warga miskin yang terlewat, terutama mereka yang berpindah domisili dan belum tertib administrasi. Respon gubernur merupakan nurani kemanusiaan dan keprihatinan terhadap nilai hidup yang perlu dijunjung tinggi.
Memento vivere “ingatlah untuk hidup” adalah seruan moral yang menuntut kepekaan kolektif. Tragedi bunuh diri bukan sekadar persoalan individual, melainkan cermin rapuhnya relasi sosial, ekonomi, dan emosional dalam masyarakat. Dalam konteks ini, kehidupan yang hilang adalah alarm keras bagi negara, keluarga, sekolah, lembaga agama, dan masyarakat luas untuk hadir lebih awal, lebih peka, dan lebih manusiawi.





