Tidak hanya itu. Di ruangannya, Piter yang mengambil posisi sebagai tuan rumah, coba mengajak beberapa anggota DPRD untuk merealisasikan semua rencana yang dibicarakan selama sidang. Ia tidak segan menganjurkan kepada anggota DPRD dari fraksi lain yang sempat ‘duduk-duduk’ untuk satukan pikiran demi terwujudkan Perguruan Tinggi di Lembata.
Hal lain yang menarik dari Pieter Gero adalah kemampuannya mengeluarkan joke-joke di tengah sidang. Dipahami, sidang DPRD pasti rumit. Gero mengatakan, berbeda dengan pemerintah daerah (bupati dan sekda) yang tinggal memerintah dan semua orang tinggal melaksanakannya).
Di DPRD, 25 orang adalah 25 kepala dengan 25 pemikiran. Pro kontra menjadi hal yang biasa. Karena itu dibutuhkan kepiawaian pemimpin untuk bisa meramunya menjadi sebuah sajian yang diharapkan menarik, mengena, dan tepat sasar tentunya. Hal inilah yang menjadikan kepemimpinan Pieter Gero menjadi hal menarik dan menjadi juga pengakuan bahwa memang ia pantas untuk itu.
Menghasilkan Pemimpin Baru
Lalu apa yang diharapkan dari Pieter Gero ke depannya? Pertanyaannya bukan saja terkait dengan kepemipinannnya di DPRD Lembata yang masih 2 tahun lagi ke depan (sampai 2024), tetapi juga terkait aklamasi yang memilihnya menjadi Ketua DPC Golkar Lembata?
Pertama, dari cara bicara dan penampilannya, Piter kelihatan menerapkan sebuah kepemimpinan untuk menghasilkan pemimpin baru. Kesederhanaan, kecekatan berpikir dan ketepatan menarik kesimpulan menunjukkan bahwa Gero selali mengarahkan agar seorang yang diberi kekuasaan tidak menjadikannya sebagai milik pribadi demi mengangkat diri tetapi untuk mengangkat orang lain.



