Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies atau IDEAS memperkirakan kerugian ekonomi yang ditanggung masyarakat akibat krisis lonjakan harga minyak goreng mencapai Rp 3,38 triliun. Selain kerugian ekonomi yang disajikan lembaga riset tersebut ada juga kerugian jiwa.
Baru-baru ini, tepatnya tanggal 12 Maret 2022 terjadi kabar duka di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur terkait seorang ibu yang dinyatakan tewas setelah pingsan saat antre membeli minyak goreng di salah satu pusat perbelanjaan.
Krisis minyak goreng yang melanda Indonesia beberapa waktu belakangan ternyata menyisakan cerita duka yang menyayat hati. Bagaimana tidak, setidaknya ada orang yang meninggal dunia setelah mengantre berjam-jam di pasar hanya untuk mendapatkan minyak goreng.
Kerugian lain juga terkait keberadaan antrean yang tak terkelola dengan baik disinyalir sangat merugikan, baik dari sisi pelanggan maupun dari pelaku bisnis itu sendiri. Selain waktu dan tenaga yang terbuang percuma, ternyata ada imbas finansial yang ditimbulkan, nilainya bahkan mencapai miliaran rupiah setiap harinya.
Dari masyarakat yang antre untuk mendapatkan minyak goreng ternyata ditemukan kerugian yang cukup besar setiap harinya. Jika kita ambil sampel dalam pelayanan minyak goreng ada 2.820 titik pada Maret 2022. Jika dalam satu titik antrean untuk mendapatkan minyak goreng sebanyak 200 orang warga, maka total akan ada 564.000 warga setiap harinya yang terjebak antrean.
Rata-rata pendapatan masyarakat Indonesia adalah Rp 10.000 per jam. Jika diasumsikan per orang menunggu 1 jam maka ada kerugian sebesar Rp 5,64 miliar setiap harinya.







