Don’t Cry For Me Argentina
Hingga perjalanan apostolik keluar Italia yang ke-33 ini, sejak terpilih menjadi Paus yang 266 dalam Gereja Katolik, 13 Maret 2013, Paus Fransiskus belum sekalipun kembali ke Argentina. Negara asal tempat ia dilahirkan pada 17 Desember 1936.
Adakah sesuatu di balik itu? Ada yang bersaksi, “Orang Argentina sering bertanya: mengapa ia tidak ingin pulang?” Ada suara orang Argentina sendiri yang mengatakan, “Orang Argentina berperilaku buruk. Dia menghukum kita pastinya.” Tetapi, tersinyalir pula, “Sebagian besar pengamat Vatikan mengaitkan keengganan Paus untuk kembali ke rumahnya karena kegusarannya terhadap politik di Argentina” (Kompas, 17 Januari 2018).
Tentu ada sekian banyak kata dan tafsiran di balik belum pulangnya mantan Uskup Agung Buenos Aires itu kembali ke Argentina. Mungkinkah ada sesuatu dalam pikiran dan hati Paus Fransiskus di balik hal yang mungkin bagi Paus sendiri tak terlalu penting? Kita bisa saja paksa diri untuk menempatkan lirik lagu “Don’t Cry For Me Argentina” pada mulut Jorge Mario Bergoglio (Paus Fransiskus) untuk rakyat Argentina. Tak bermasuk untuk mengingat dan meratapi kembali kepergian Evita Peron yang sangat berjasa bagi negara Argentina.
Tetapi sebagai ganti tangis dan air mata dalam menanti ‘sesekali kapan ia pulang’, biarlah rakyat Argentina mengiringi seluruh hidup dan perjalanan apostolik Paus Fransiskus dalam doa-doa. Dialah Paus yang punya hati terhadap orang kecil, sederhana, menderita dan terhadap orang-orang yang terpinggirkan. Argentina telah menghadirkan seorang pemimpin Gereja Universal yang akrab dengan kata dan tindakan: Solider dengan orang kecil, miskin dan sederhana. (*)







