Dari Kehancuran Menuju Harapan Akan Pemulihan
Wilayah Irak adalah kisah-kisah pilu penuh ratapan. Bukankah kehancurannya telah dimulai dari runtuhnya menara Babel (Kej 11:1-9)? Ketika bahasa manusia dikacaukan Tuhan oleh karena kesombongan hati? Pun di Babilonia ada ratap tangis Israel yang teramat sedih merindukan Yahwe dan ingin pulang ke Yerusalem?
Irak mesti berani bangkit! Abraham bin Terah yang berasal dari Ur-Kasdim (Kej 11:28) adalah bapa segenap bangsa. Dialah Bapa,yang dari kesaksian imannya yang tangguh, mempertemukan dunia Yahudi-Kristen-Islam. Itulah agama Abrahamik!
Memulihkan Irak kini harus menjadi pilihan yang tak terelakan. Pemulihan itu harus berangkat dari kehendak baik bersama serta itikad yang tulus. Bahasa ketakutan, ancaman, kekerasan, terorisme serta aneka persekusi yang berujung kehancurkan mesti segera diganti dengan bahasa kasih, damai, keadilan serta pengharapan.
Di Niniwe telah dipasang kembali api harapan oleh Paus Fransiskus. Ya, di Niniwe itu, yang pada tahun 2014, jadi fokus serangan pasukan ISIS untuk menekan secara keji agama minoritas dan segala atributnya. Tetapi, semuanya telah berlalu. Kekerasan tidak pernah bermuara pada kedamaian.
Tetapi, kita tentu tahu, di wilayah Irak (pernah) ada taman Eden. Di situlah romantisme manusia dan Tuhan berawal. Eufrat dan Tigris adalah sungai-sungai cantik yang mengitari taman itu. Di taman itu ada kemesrahan manusia dengan Tuhan. Ada kisah ‘kisah cinta arkais’ Adam dan Hawa. Namun, semuanya telah berlalu…. Tetapi Kasih Tuhan tak pernah berlalu. Kasih Tuhan tak pergi selamanya. Karena di ujung perbuatan tidak taat manusia itu, Tuhan tetap dan selalu mencari manusia, “Adam, di mana kah engkau?” (Kej 3:9).







