Niniwe-Irak: Antara Kunjungan Nabi Yunus dan Kunjungan Paus Fransiskus

paus di irak1

Tetapi, di hati Paus Fransiskus ada kerinduan membara untuk ke Irak. Ya, termasuk ke wilayah Niniwe itu. Kekerasan, peperangan, serta rupa-rupa tindak kekerasan di Irak tak surutkan  niat Paus untuk mendatangi wilayah itu. Ini tidak berarti bahwa Paus Fransiskus lebih bernyali ketimbang Nabi Yunus. Karena di balik dua pribadi ini pasti ada karya, rencana dan kehendak Tuhan sendiri. Pun keduanya ada dalam situasi jaman yang berbentangan teramat jauh.

Nabi Yunus dan Paus Fransiskus ‘bertemu’ di Irak

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kisah Nabi Yunus untuk Niniwe berujung manis. Ada rencana Tuhan di balik retret agungnya. Tiga hari tiga malam di dalam perut ikan besar (Yun 1:17). Yunus, di panggilan kedua dari Tuhan, lalu menjadi pribadi berani. Niniwe, yang besar kotanya tiga hari perjalanan itu, berubah menjadi tanda keataan Yunus pada Tuhan dan pengorbannannya demi Niniwe. Yunus berseru, “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan” (Yun 3:4) Puasa, mati raga, serta sungguh hidup dalam sikap batin penuh sesal adalah jawaban Niniwe yang paling tepat. Dan mereka diselamatkan.

Di hari kunjungan Paus Fransiskus, ada nama NINIWE disebut. Kardinal Louis Raphael Sako, Patriak Katolik Babilonia, ritus kaldea, ungkapkan rasa suka cita atas kehadiran Paus dalam ‘visita coraggiosa’-nya (kujungan penuh keberanian). Sang Patriak berusia 72 tahun itu bersaksi di hadapan Paus: Ada kebesaran hati komunitas minoritas untuk bertahan dalam perbagai situasi sulit. Mereka ditinggalkan oleh nyaris 120 ribu umat Kristen di dataran Niniwe dan Mosul. Perang dan kekerasan pun perbagai tindak terorisme telah jadi tragedi yang menghancurkan.  Memisahkan nyaris segala. Kecuali melepaskan iman kepada Kristus.

Pos terkait