Palungan Natal, Peti Mati dan Natal Kita

Kons beo5

Oleh P. Kons Beo, SVD

Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer, Ricky Rizal, Kuat Ma’ruf. Kelimanya lagi ‘tenggelam’ di rawa-rawa konspirasi. Tak ada lagi kata ‘tidak’ bagi Sambo. Konspirasi maut itu berujung tragedi. Kisah kematian sia-sia merenggut kehidupan Brigadir Josua. Itulah yang lagi booming. Tetapi, semudah itukah kebenaran dibedah dan terurai menderang?

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Semuanya berpuncak serentak berawal di Jumat 8 Juli 2022 itu. Gejolakan kehebohan. Seantero tanah air terdiam sejenak. Namun dalam tanya penuh hingar bingar. Di hari-hari ini, tampaknya semua pihak lagi bernyali. Demi yakinkan Dewan Hakim yang mulia: Siapakah yang sungguh mendekati kebenaran itu?

Setiap orang punya pikirannya. Siapa pun punya analisis sendiri-sendiri. Orang-orang punya tafsirannya masing-masing. Namun, ada bagusnya setiap kita ‘hemat-hemat’ untuk menghakimi sejadinya. Itu sekiranya masih tetap ada kesabaran . Menanti suara pasti dari yang berwewenang. Demi satu keputusan akhir.

Bagaimana pun, di ketikanya nanti, yang dianggap pasti pun tentu tak sanggup penuhi rasa kepuasan di hati. Selalu ada yang terganjal. Yang dirasa aneh bin ajaib. Yang masih menyimpan banyak tanya.

Alur perkara ini ibarat aliran air sungai.  Sepertinya telah terasa pasti di mana sebenarnya muara akhirnya. Namun, aliran sungai ini, perkara ini masih saja berkelok-kelok. Ia terus mengular dan panjang bertikungan. Masih tetap menuntut kesabaran publik.

Bagaimana pun Sambo cs, yang beriman Kristen, di suasana hari-hari ini, tentunya punya alam batin yang  diselimuti suasana Natal. Natal adalah perayaan Damai. Kisah rekonsiliasi agung Allah dan manusia.

Tembang Natal adalah narasi  langit dan bumi yang berdekapan dalam kekariban. Penuh damai. Saling menyapa teduh. Allah yang diimani bukanlah Allah ‘penghukum nan kejam.’ Manusia bukanlah insan buangan selamanya.

Tuhan datang begitu nyata dan jelas. Kasih Allah itu tak terbendung oleh apapun salah dan dosa manusia.  Sekiranya Sambo cs teringat kata-kata pada Alkitab, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah menganugerahkan AnakNya yang tunggal…” (Yoh 3:16). Dan bukankah ‘Anak Manusia itu datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya” (Cf Yoh 12:47)?

Di hari-hari ini ‘perjalanan Sambo cs terasa sangat menyedihkan.’ Padahal, kebenaran tak pernah menghakimi siapapun. Pun termasuk untuk tak menghardik Sambo cs di lingkaran konspirasinya. Di hari-hari ini, di lingkaran konspirasi itu, siapa pun boleh saja bersenandung sendu, “Dosa siapa, kini dosa siapa; salah siapa, kini salah siapa?”

Toh, di titik tertinggi, pasti ada elegi batin pribadi nan pilu. Yang akan menuntun pada kesadaran paling dalam dan untuk semuanya itu, “Jawabnya ada di relung hati ini…”

Di lingkaran suasana Natal ini, hati Sambo cs sekiranya lagi memberontak. Tak mudah memang untuk menggapai ‘Betlehem teduh nan bening.’ Terasa sulit untuk alami atmosfer Damai Natal. Untuk memeluk dan mencium lembut penuh kasih Kanak-Kanak Suci yang baru dilahirkan itu.

Tetapi, telah hilang musnahkah segala harapan untuk berlutut dan menyembah Kanak-Kanak Yesus? Untuk memeluk Tuhan yang adalah “Jalan – kebenaran dan Hidup” (cf Yoh 14:6)? Untuk sanggup menatap wajahNya yang lembut ceriah? Untuk kembali bisa tersenyum sambil memandang wajah rupawan Bayi Suci itu?

Bagaimana pun, semuanya tak akan pernah hilang! Dalam Tuhan selalu ada harapan. Dan harapan itu ‘cuma’ menuntut satu kerendahan hati. Demi suci lahir dan di dalam batin. Menggapai palungan sederhana, tempat Bayi Kudus Yesus dibaringkan,  menuntut pula keberanian yang tulus untuk menyentuh dan lewati ‘peti mati Brigadir Josua.’

Damai dan sukacita Natal, selamanya tak akan pernah berkarib mesrah dengan apa pun alam kekerasan dan darah. Sukacita Natal mesti disucikan dari tangisan dan air mata karena kematian sia-sia. Jalan menuju akhir palungan Betlehem, tak pernah boleh tertahan pada ‘jalan Herodes dan seisi Yerusalem.’

Di lintasan hari-hari belakangan ini, ilham Natal Kudus memanggil Sambo cs untuk “pulang melalui jalan lain…” (cf Mat 2:12).  Untuk tak terus bertahan  dalam jarak asing dan selalu hendak dilebarkan dari ‘pusaran Brigadir Josua.’ “Pulang melalui jalan lain” berarti berani memusnahkan segala mata rantai kekerasan itu. Iya, mata rantai kekerasan yang sudah ‘dikuburkan hidup-hidup.’

Natal adalah pesta kemanusiaan yang dimuliakan. “Sebab Allah sungguh jadi manusia dan diam di tengah kita manusia” (cf Yoh 1:14). Pencederaan terhadap nilai kemanusiaan dan martabat manusia adalah pengkhianatan terbesar bagi makna Natal itu.

Tetapi, Natal kita pasti bermakna, sekiranya jalan lama yang telah kita lalui itu, berani kita tinggalkan. Dan itu hanya bisa terjadi jika kita memang benar-benar “pulang melalui jalan lain.” Semoga, tetap ada cahaya dari “BintangNya di Timur” agar setiap kita dapat melihat dengan tepat dan mengikuti jalan lain itu.

Kepada Brigadir Josua, almarhum, kita ucapkan Selamat Natal di surga abadi. Dan kita pun tulus doakan Pak Ferdy Sambo dan Ibu Putri Candrawathi, cs dengan sepotong ucapan Damai Natal. Dari hati  paling bening dan penuh ketulusan pula.

Ah, sekiranya Sambo cs sanggup, dengan rendah hati, sampaikan ucapkan Salam Natal buat Pak Samuel Hutabarat dan Ibu Rosti, orangtua Josua. Pun sebaliknya, dengan hati penuh tulus, seandainya terucapkan untaian Salam Damai Natal dari Pak Samuel Hutabarat sekeluarga buat Sambo cs….

Mengapa tidak? Dalam Natal, dendam dan kebencian selalu dapat dikalahkan oleh Damai dan Pengampunan yang terungkap tulus.

Et in terra Pax hominibus, bonae voluntatis….”Dan Damai di bumi bagi siapapun yang berkehendak baik”! Dan Andalah salah satu di antaranya yang berkehendak baik.

Salam Natal dariku  untukmu semua……

Verbo Dei Amorem Spiranti

Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait