Menurut Mekeng, hakikat dari pembangunan bukanlah semata-mata peningkatan pendapatan perkapita, melainkan pemerataan distribusi pendapatan, penurunan pengangguran, pembebasan kemiskinan dan penghapusan ketidakadilan.
Sependapat dengan Amartya Sen, Mekeng mengedapankan pembangungan sebagai kebebasan, di mana pembangunan harus mampu mengantarkan suatu bangsa mencapai kehidupan politik yang bebas dan demokratis, dengan menghilangkan kemiskinan dan pelbagai penderitaan dalam masyarakat seperti masalah pangan, malnutrisi, penyakit, buta huruf, ketiadaan kebebasan sipil dan hak berdemokrasi, diskriminasi, serta berbagai bentuk perampasan hak-hak milik pribadi. Masyarakat mesti menjadi subjek dan tujuan pembangunan sebagai kebebasan, bukannya sebagai objek/ instumen pembangunan belaka yang dikendali dan diperalat demi kepentingan kelompok tertentu.
Mekeng berpendapat bahwa tujuan dari pembangunan ialah menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi penduduknya untuk menikmati umur panjang, sehat dan menjalankan kehidupan yang produktif. Dalam pembangunan manusia, kata Mekeng, manusia sebagai pusat perhatian (bukan sebagai alat atau instrumen) dan memperbesar pilihan-pilihan bagi manusia secara keseluruhan.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Partai Golkar selalu mengutamakan pembangunan manusia sebagai subyek sekaligus tujuan pembangunan. Partai Golkar membebaskan manusia dari segala bentuk pengisapan, perampasan dan pencaplokan dalam masyarakat.
Terkait dengan semangat pembangunan manusia dalam konteks ekonomi, Partai Golkar sebagaimana yang disampaikan Melchias Markus Mekeng (Ed. Viktus Murin, Ibid., hlm. 328): (1) menyediakan pelatihan tentang kewirausahaan dan pengembangan manajemen dengan tujuan untuk menyediakan para pengusaha fasilitas sehingga mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. (2) Memberi pelayanan dan bimbingan setelah perlatihan selesai dilakukan untuk membantu pengusaha lama dan baru dalam mengelola bisnis mereka dengan efektif. (3) Menyediakan fasilitas mentor bagi para pengusaha muda dan memberi kesempatan kepada mereka untuk berkomunikasi dengan para pemilik bisnis sehingga mereka mampu mengembangkan bisnis mereka. Dan (4) menumbuhkan jiwa kewirausahaan tidak hanya memperdayakan kemampuan mereka sendiri. Akan tetapi kemampuan dan keterampilanlah yang mesti diperlukan dalam membangun bisni/ usaha.







