Selain itu hendaknya Partai Golkar, dalam hal ini para pengurusnya, dapat mendesain sirkulasi kepemimpinan yang bercorak pemerintahan kerakyatan. Hal ini berarti para tokoh Partai Golkar melakukan kaderisasi anggota partai dengan dijiwai semangat nasionalisme dan demokratis.
Dalam hal ini, Partai Golkar sudah makan garam, dan sudah terbukti selama ini. Yang perlu diperhatikan ialah bagaimana partai tetap mempertahankan visi-misinya, demi kemajuan partai, kemakmuran masyarakat, pembangunan sebagai pembebasan manusia secara universal dan peradaban bangsa. Proses ini merujuk pada usaha Partai Golkar dalam merawat dan menjunjung tinggi pemerintahan kerakyatan di bawah naungan pohon beringin partai.
Di tengah masalah-malasah terkait dengan agenda ekonomi-politik, geopolitik dan pembangunan manusia di daerah NTT, Partai Golkar hendaknya terus mengumandangkan suara kerakyatannya, mengakar dalam rakyat, dan sambil meningkatkan kualitas hidup masyarakat di dalamnya. Dengan paradigma kebangsaan (Kebhinekaan Tunggal Ika), Partai Golkar juga mesti menjunjung tinggi pembangunan manusia sebagai subyek dan sekaligus tujuan dari setiap agenda pembangunan.
Kita perlu berkomitmen dan mesti optimis—dengan berkaca pada sejarah kesuksesan Partai Golkar— Partai Golkar tetap melindungi segenap masyarakat Indonesia, khususnya NTT di bawah pohon beringin, menuju NTT yang otonom, sejahtera, dan makmur. Corak demokrasi modern: partai yang berada dan berjuang bersama rakyat, partai itu pasti dimiliki oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Semoga Partai Golkar tetap merakyat! Selamat ulang tahun ke-56 Partai Golkar! Sekali lagi, Tetap Merakyat!







