Tapi, yang jelas duel sengit telah terjadi. Tak ada kesan liar penuh curiga. Selecao vs The Taeguk Warriors tampak sungguh untuk saling membunuh. Kemenangan tak hanya untuk jaga wibawa dan nama besar timnas. Lebih dari itu, ada perjuangan demi impian yang lebih besar.
Gol Ricardo Horta di menit ke 5 tunjukkan keperkasaan Portugal. Namun semuanya berakhir pada dahsyatnya semangat Korsel. Untuk menutup pertandingan dengan 2 – 1. Itulah filosofi seadanya yang jamak terdengar, “Bola itu bundar, Bro!”
Mari pulang pada Paulo Bento. Satu dinamika kualitas perelasian terbaca darinya. Ia mesti ber-passingover dari ‘seorang pemain dulu’ dan lantas kini mesti jadi seorang pelatih. Korsel baginya, sebenarnya, adalah dua medan rasa yang tak berkarib mesrah. Antara ‘dulu musuh dan kini pendamping’ terbentang jarak waktu 18 tahun. Jangka waktu yang tak singkat.
Namun, semuanya sudah cukup untuk satu tranformasi diri, untuk tak harus menyesebutnya sebagai satu transformasi kepentingan. “Korea Selatan dulu harus dikalahkan, namun kini ia harus dimenangkan.” Mari tafsir seluasnya. “Paulo Bento sesungguhnya telah ditobatkan di Korea Selatan.” Di 2002 itu, ia datang sebagai musuh untuk ‘menang dengan membunuh di lapangan, toh akhirnya ia ditaklukkan untuk jadi arsitek pemenang Korsel.’
Itulah seni dan gambaran dari satu dinamika kehidupan. Dalam dimensi apa saja. Tak terkecuali dalam koridor keagamaan sekalipun. Apa yang dilihat sebagai ‘lawan, musuh, yang mesti dihancurkan, atau yang mesti dibabat, sebenarnya adalah sesama yang mesti dilindungi, diperjuangkan dan dimenangi.’







