Mungkin masih butuh berabad-abad untuk membuka pikiran dan terutama hati. Untuk ubah cara dan isi berpikir demi sikap yang sejuk terhadap yang lain.
Di sini, kita sebenarnya, belajar untuk alami hidup yang sering berubah dan tak pasti alurnya. Ada ‘yang bermusuhan, tapi bisa bekarib pada akhirnya.’ Ada pula yang ‘sungguh sungguh akrab, namun ternyata bisa retak yang berakhir pecah.’Sedih memang.
Tetapi, katanya, terlebih dalam dunia politik, “Tidak ada kawan dan lawan abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi.” Sebab itu, kenapa kita ribut dan terus meributkan kalau memang politisi itu akan terus berzig-zag dan berakrobat demi kepentingannya? Bukankah ini adalah satu kelumrahan?
Bagaimanan pun demi kepentingan yang positif dan bernilai, siapapun sepantasnya memilih mengalah demi kebaikan. Apalagi demi kebaikan umum. Jika tidak demikian, arus permusuhan yang dibalut dendam kebencian akan tetap berlarut-larut. Dan ngerinya lagi jika diturun-temurunkan.
Dan itu semua yang tidak terjadi pada Paulo Bento. Sebab, ia tak mau melihat terus dan terus saja bersikap kepada Korea Selatan: Sebatas musuh. Dan selalu terus saja memusuhi. Perjalanan waktu telah mengubah semuanya…
Verbo Dei Amorem Spiranti
Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma







