Gubernur Melki datang dengan hal yang melampaui itu: Harapan. Harapan tidak hanya berbicara tentang angka-angka. Harapan berkaitan dengan aksi nyata untuk mengubah bentuk negatif yang sedang terjadi. Harapan tidak ‘pasrah’ pada data-data di depan mata. Harapan datang dari visi masa depan melihat apa yang bisa diubah ke arah yang lebih baik.
Melki tahu bahwa provinsi yang dipimpinnya menghadapi keterbatasan ruang gerak fiskal. Melki juga tahu masalah utama NTT adalah stunting dan kemiskinan ekstrem. Melki mempunyai sejumlah catatan lain soal permasalahan di NTT: mulai dari kasus perdagangan manusia hingga persoalan hukum dan moral-sosial yang tengah dihadapi.
Dengan harapan, Melki ingin berjuang bersama semua pihak, terutama para pemimpin daerah, untuk mengubah wajah NTT. Harapan itu tidak hanya sekedar duduk manis di atas kursi dan berdoa. Harapan adalah membangun inisiatif dan mulai memperjuangkan apa yang diharapkan, termasuk ketika banyak data dan prediksi perkiraan membuat kita tidak bisa optimis.
Ambil contoh misalnya ketika ber-audiensi di Kementerian Investasi dan Hilirisasi (Kemeninveshil), Gubernur Melki mengakui kondisi NTT yang mungkin tidak menarik di mata para investor. Melki tidak berhenti di situ, tetapi sejurus kemudian membuka peluang agar Kemeninveshil membuat gugus tugas khusus untuk NTT, agar para kepala daerah, kepala dinas terkait, dan masyarakatnya bisa diedukasi sedemikian rupa agar lebih melek investasi dan membangun budaya investasi yang memang relatif baru untuk konteks NTT. “Kami mau belajar dari Kementerian ini agar kami sampai pada suatu taraf menjadi daerah yang ramah investasi dan mandiri secara ekonomi,” mohon Melki.







