“Kita bahu-membahu, gotong-royong membangun NTT,” tegas Melki.
Salah satu cara bersahaja Melki memecahkan egoisme rangkap tiga adalah memilih menumpang bus yang sama dengan para bupati dari satu kantor Kementerian ke kantor Kementerian lain. Di dalam bus, Melki mengajak para bupati untuk saling akrab, bernyanyi bersama, dan senantiasa bahagia di tengah tantangan.
Dalam beberapa pertemuan, Melki meminta para bupati menyanyikan lagu “Jangan Menyerah” dari D’Masiv di hadapan menteri: “Syukuri apa yang ada/ hidup adalah anugerah//Tetap jalani hidup ini/melakukan yang terbaik//Tuhan pasti ‘kan menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya/bagi hamba-Nya yang sabar/ dan tak kenal putus asa”
Adalah benar untuk mengatakan bahwa harapan yang tidak mengecewakan (spes non confundit) hanya bisa diraih oleh mereka yang tidak putus asa. Jangan menyerah!
Melki selalu mengatakan kepada para wartawan, aktivis dan akademisi agar mengkritiknya dengan jitu sebagai bentuk koreksi persaudaraan (correctio fraterna). Hal itu perlu dilihat sebagai suatu sikap terbuka yang baik. Untuk inisiatifnya kali ini dalam melakukan terobosan membuka harapan bagi NTT, Melki perlu diapresiasi juga dalam nada persaudaraan.
Nyalakan api harapan. Ayo Bangun NTT!
- Penulis, anggota PP ISKA (Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia)







