Siapa Yang Hilang?

JOHN NABEN1

Oleh John Naben, SVD

Saya yakin, kita semua sudah mengenal secara baik kisah Injil Lukas tentang Anak Yang Hilang. Ini judul yang sudah biasa kita dengar dan renungkan, entah secara pribadi atau kolektif dalam konferensi, ibadat tobat, rekoleksi atau pun retreat.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Tetapi ada tiga tokoh yang ditampilkan dalam perikop Injil Lukas itu. Mereka ialah Anak Bungsu: yang dinamakan anak yang hilang; Bapa yang baik hati dan pengampun; dan Anak Sulung: yang membangkang.

Kisah ini dimulai dengan menghilangnya Si Bungsu dari rumah sesudah menerima hak warisan yang menjadi bagiannya. Ia lalu pergi ke suatu negeri yang jauh, memboroskan harta miliknya dengan hidup berfoya-foya sampai tak ada sesuatu pun lagi yang ia miliki. Yang bisa ia buat ialah menjadi penjaga babi dari seorang majikan.

Si Bungsu melarat. Ia tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan, ampas makanan babi pun tidak diberikan kepadanya. Itu berarti, ia sudah hidup pada tingkat yang paling hina. Ia harus menderita akibat dari penyalagunaan kebebasan. Ia harus sengsara. Ia mulai miskin, hidup tanpa uang, tanpa makanan, tanpa sahabat; tidak ada lagi ketenangan batin atau tidak ada lagi kedamaian.

Selagi Si Bungsu masih ber-uang, ia punya banyak teman dan ketika ia kehabisan segalanya, teman-temannya itu pergi meninggalkan dia seorang diri; mereka menghilang. Si Bungsu, tidak hanya kehilangan teman-teman, ia bahkan kehilangan relasi dengan sesama (tidak ada yang memberikan makanan kepadanya, bahkan ampas babi pun ia tidak mendapatkannya dari seorang pun termasuk majikannya itu (bdk. Luk. 15:16)). Ia juga kehilangan relasi dengan dirinya sendiri (bdk. Luk. 15:17-19). Si Bungsu, tidak mengalami lagi ketenangan batin.

Pos terkait