Kedua, sikap menuntut balasan yang berlebihan atas pelayanan yang telah diberikan kepada bapanya. Si Bungsu berkata kepada bapanya: ‘Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa berikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku’ (Luk. 15:29). Sebuah luapan kekecewaan yang mendalam bahwa Si Sulung, tidak pernah mendapat balas jasa atas pekerjaan dan pelayanan yang telah dibuat untuk bapanya selama bertahun-tahun, saat ada bersama di rumah.
Ketiga, Si Sulung menolak Si Bungsu. Hal ini terungkap dari pernyataan Si Sulung, berikut ini: ‘Tetapi baru saja datang anak bapa…dst’ (bdk. Luk. 15:30). Berarti tidak ada hubungan lagi antara dia dengan bapanya dan juga dengan adiknya sendiri.
Sikap menolak yang ditunjukkan oleh Si Sulung ini, sering terjadi juga pada kita manusia. Kita menjauhkan diri atau menolak orang yang selalu berbuat salah/baik sekalipun terhadap kita. Bahkan dengan sikap yang diam-diam, mengharapkan agar orang lain yang tidak senada, yang menjadi musuh, yang ditolak dan tidak mau dimaafkan harus didepak, disingkirkan atau dibuang jauh-jauh dari pandangan kita.
Terhadap sikap yang tidak bersahabat dari Si Sulung, bapa tetap menunjukkan sikap yang baik. Bapa tidak beri teguran atau marah kepada Si Sulung. Bapa coba meyakinkan Si Sulung apa artinya kembali kepada bapa. Namun sebelumnya, ketika Si Sulung marah dan tidak mau masuk ke dalam rumah, bapa keluar dan menemuinya. Lalu bapa mengatakan: ‘Adikmu ini telah mati dan hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali’ (Luk. 15:32). Bapa yang baik, selalu memberi nasehat, selalu memberi arahan, selalu merangkul, selalu mengalah, selalu mengayomi, tidak memihak pun tidak marah. Dia selalu mengampuni kesalahan anak-anaknya.





