Oleh Pater Kons Beo, SVD
Kawan ku….
Di kisah itu, Sabda Yesus, Tuhan dan Guru penuh kepastian, “Di atas Batu Karang ini akan KUdirikan jemaatKU, dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18).
Dari Petrus, sebelumnya, ada pengakuan iman akan Yesus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Itu sesungguhnya kuasa Kata-Kata Bapa di surga dalam diri Petrus. Kumpulan para murid, Gereja, dan setiap kita bertumpuh atas Batu Karang Iman. Itulah penyerahan diri kepada Bapa dalam dan melalui Yesus, Sang Putera. Dialah Anak Allah yang hidup.
Kawan ku…
Batu Karang Iman itu tetaplah jadi fondasi kokoh kita berziarah sebagai Umat Allah. Dalam Kasih dan Pengharapan. Tentu, kita tak mungkin bebas dari hadangan dan tantangan alam maut. Itulah kenyataan ziarah hidup di dunia. Namun, kita tak pernah lenyap dan musnah dalam keyakinan – iman sekokoh wadas.
Bagaimana pun, kawan ku….
Iman yang diwariskan kepada kita melalui Para Rasul, para kudus sekalian, serta semua pendahulu kita menuntut tanggung jawab kesaksian iman yang paten dari kita demi kekokohan iman bagi lintasan generasi berikutnya.
Kawan ku….
Tak terlalu berlebihan lah sekiranya Gereja yang didirikan di atas Batu Karang itu, dipersubur serta kuat berakar dalam Ekaristi, Doa, melalui hidup dalam Sabda Allah sendiri, dalam nilai-nilai Injili, dan di dalam karunia-karunia Roh.
Dan juga kawan ku…
Gereja di atas Batu Karang mesti menyata dalam panggilan ‘menggarami sesama dan menerangi dunia’ dalam Cinta dan Kebaikan. Sebab, Gereja bukanlah ‘kekitaan kita’ yang tampak dan ‘terlihat anggun di Atas Batu Karang.’ Tetapi bahwa kita sungguh bertahan dalam segala ujian dan pergolakan dunia nyata. Dan bersama dengan semua yang berkehendak baik melakukan yang terbaik.







