Oleh Hugo Rehi Kalembu
Semua orang sepakat, bahwa untuk mempercepat laju pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, energi listrik menjadi prasyaratnya. Dan semua juga sepakat, agar pilihannya adalah Energi Baru Terbarukan.
Mengapa terjadi pro dan kontra pengembangan energi panas bumi di Pulau Flores? Khususnya yang kontra, mereka takut akan dampak lingkungan dan dampak sosialnya. Mereka merasa belum cukup dilibatkan dalam proses diskusi dan penentuan keputusan; mereka merasa kajian yang dilakukan belum cukup meyakinkan semua pihak akan manfaat dan dampak negatifnya.
Menanggapi situasi ini Gubernur NTT telah menentukan sikapnya. Geothermal yang sudah bagus dilanjutkan, yang belum bagus terus dibenahi sampai bagus. Yang gagal ditutup.
Di daratan Flores ada 16 titik geothermal dengan cadangan 902 MW. Sementara kapasitas terpasang sekarang baru mencapai 96,5 MW dan pihak PLN sendiri memproyeksikan penambahan daya sebanyak 115 MW, sehingga menjadi 211,5 MW pada tahun 2028.
Jika polemik geothermal ini berlangsung terus dan lama, maka alternatif terbaik yang perlu ditempuh adalah mewujudkan rencana pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah yang menghubungkan Flores daratan di Kabupaten Flotim dan pulau Adonara dengan kombinasi pemanfaatan arus laut menjadi energi listrik. Sejauh paparan Pemda NTT di hadapan DPRD pada waktu itu, proyek ini diperkirakan akan menelan biaya tiga triliun rupiah .
Investornya adalah PT Tidal Bridge Indo, bekerjasama dengan Bank Pembangunan Belanda. Selain jembatan, maka energi listrik yang dihasilkan mencapai 300 sampai 400 MW. Jika proyek jembatan Pancasila Palmerah ini berhasil dibangun, maka kebutuhan energi listrik di daratan Pulau Flores dapat terpenuhi, sehingga tidak perlu terburu buru dengan usaha eksploitasi geothermal yang ada.





