
Kedua, tekad untuk maju. Sejak memimpin Malaka berduet dengan Daniel Asa (Alm) sebagai Wakil Bupati, SBS menabuh gendang membangun Malaka. Dia seperti ingin membawa Malaka terbang merengkuh masa depan yang gilang gemilang. Kita perlu membayangkan kondisi Malaka ketika lepas dari Kabupaten Belu. Ruas jalan rusak parah dan bopeng di mana-mana. Sarana pendidikan, terutama gedung sekolah seadanya. Letaknya di selatan Pulau Timor mengakibatkan akses ke luar Malaka sungguh sulit.
Setelah empat tahun memimpin Malaka, lihat hasilnya. Malaka tampil ke panggung merebut perhatian dengan Revolusi Pertanian Malaka (RPM). Dengan mayoritas masyarakat sebagai petani, tidak salah pertanian jadi titik bidik di awal pembangunan.
Di sektor pertanian, harus diakui Malaka punya segala-galanya. Hasil bumi dari Malaka luar biasa. Pisang Malaka menguasai pasar-pasar tradisional di Kota Kupang. Bawang merah Malaka tembus hingga ke Timor Leste. Dan, pemerintahan di bawah kendali SBS punya tekad kuat memajukan sektor pertanian. Revolusi Pertanian Malaka (RPM) adalah strategi yang sangat tepat dan bahkan menjadi priortas.
RPM didesain menjadi program prioritas agar rakyat berkelimpahan makanan. SBS punya alasan jelas dan tegas ketika menelorkan RPM. Pertama, Malaka adalah tanah tersubur di Pulau Timor, musim hujan dua kali dalam setahun. Kedua, 80 persen rakyat Malaka adalah petani, yang tentu saja saban hari berurusan dengan kebun dan ladang. Ketiga, sedari dulu Malaka dikenal dengan hasil pertanian. Keempat, kebutuhan akan pangan selalu bertambah seiring pertambahan penduduk.
Jika disimak secara saksama, RPM mirip dengan ONH (operasi nusa hijau) dan ONM (operasi nusa makmur), program Ben Mboi ketika memimpin Provinsi NTT dulu. ONH dan ONM tidak cuma meninggalkan jejak sejarah tetapi juga dan terutama mewariskan jambu mete, kakao, kopi, kelapa, kemiri, vanili, cengkeh, tanaman pakan ternak seperti gamal, lamtoro gung dan lain-lain.
Nama Besikama pernah mewangi pada era tahun 1970-an ketika tebu-tebu di Malaka diolah menjadi gula. Meski sekarang tidak beroperasi lagi, tetapi Besikama telah menyibak tirai bahwa potensi pertanian Malaka memang luar biasa dan karena itu sangat diandalkan.
Di awal abad lalu, ketika tarekat SVD mengambil alih secara resmi karya misi Sunda Kecil (Kepulauan Nusa Tenggara) dari tangan Serikat Jesuit (SJ), 1 Maret 1913, SVD yang meneruskan pusat misi Timor di Lahurus hendak menjadikan Betun, Ibukota Malaka, sebagai pusat perkebunan dan pertanian misi. Ahli pertanian dan ahli tanah didatangkan dari Eropa untuk mempelajari tanah di Timor. Dana besar disiapkan untuk membuka perkebunan berskala besar. Tetapi karena pusat misi dipindahkan ke Ende, Flores maka niat menjadikan Betun sebagai pusat perkebunan ikut dialihkan ke Flores. Dan hari ini kita tahu Mataloko (Ngada) dan Hokeng (Flores Timur) menjadi episentrum perkebunan SVD di Flores.







