
Yang luar biasa semua kontingen disiapkan penginapan gratis. Di mana? Ruang kelas di sekolah-sekolah disulap menjadi penginapan lengkap dengan tempat tidur spring bed, kamar mandi menggunakan shower. Acara pembukaan El Tari Memorial Cup dilukiskan sebagai yang paling meriah selama ini berkat tampilnya 25 ribu pemuda pemudi menari likurai dan ronggeng. El Tari Memorial Cup akhirnya sukses digelar di Malaka, bahkan tuan rumah keluar sebagai pemenang.
Dengan menggelar El Tari Memorial Cup dan mengekspor bawang merah ke Timor Leste, Malaka merangsek naik ke panggung pembangunan di NTT. Malaka tampil ke permukaan dan merebut perhatian luas.
Harus diakui banyak fasilitas publik, terutama gedung-gedung perkantoran, belum dibangun. SBS sadar sungguh bahwa kantor-kantor pemerintah belum dibangun. Meminjam bahasanya sendiri SBS memberi alasan, “Saya ingin meletakkan dasar-dasar pembangunan dulu, saya ingin rakyat Malaka sejahtera dulu. Kantor-kantor akan menyusul.”
Yang dibangun lebih dahulu adalah fasilitas yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat seperti jalan raya. Maka, wajah Malaka hari ini jauh berbeda dengan wajah Malaka lima tahun lalu. Jalan-jalan kabupaten dan desa yang selama ini tak tersentuh aspal, bahkan memprihatinkan, kini berubah mulus dan dihotmix licin.
Hingga akhir tahun 2019 panjang keseluruhan jalan yang dibangun mencapai 330,23 kilometer. Dari ruas sepanjang ini, jalan dengan konstruksi hotmix mencapai 105,55 kilometer, konstruksi lapen 126,43 kilometer, dan pengerasan 93,25 kilometer.
Hasil dari pembangunan ruas jalan ini mulai nyata. Geliat perubahan mulai terlihat. Transportasi antaradesa dan antarkampung mulai terhubung. Lalu lintas barang dan manusia mulai hidup. Seterusnya, roda ekonomi pun bergerak.
Penutup
Empat tahun sudah SBS memimpin Malaka. Mantan Kepala Dinas Kesehatan NTT ini sudah meninggalkan banyak jejak. Hasil program pembangunannya sudah mulai dirasakan masyarakat Malaka.
Tidak salah SBS menjadi bupati pertama yang memimpin Malaka. Di tangan SBS, Malaka mengalami quantum leap, lompatan yang jauh. Dari tidak ada apa-apanya menjadi ada apanya. Yang kurang atau belum dikerjakan pasti akan dibereskan.
Empat tahun memimpin Malaka, tentu ada yang kurang. SBS sadar tidak mungkin dia bisa menjawab semua kebutuhan masyarakat. Mustahil dia bisa memberi pekerjaan kepada semua warga Malaka. Dia sadar tidak mudah membawa masyarakat Malaka keluar dari gua garba kemiskinan. Tetapi kehadirannya, tampilnya di pucuk pimpinan dan di panggung kekuasaan membawa kesadaran ini dalam diri SBS, “I cannot give them jobs, but I can ensure that they have the core skill and competences to create them.”
Inilah hakikat dasar dari setiap gerak dan program pembangunan: memanusiakan manusia pembangun. Dan, SBS menjadikan jabatan bupati bukan sebagai simbol kekuasaan, tetapi simbol tanggung jawab. (*)
Wartawan, Pemimpin Redaksi kabarntt.id







