
Tekad SBS memajukan Malaka itu terbaca dari gayanya memimpin dan mengelola pemerintahan. Aturan pemerintah wajib hukumnya ditaati, tetapi aturan itu jangan pernah menghambat pekerjaan untuk maju. Aturan itu alat bantu saja, yang berguna sebagai pemandu dan pegangan ketika mengeksekusi program-program pemerintah di lapangan.
Ketika pandemi Covid-19 menyerang, tidak ada kepala daerah di NTT yang seaktif dan segiat SBS menghadapi Covid-19. Nyaris setiap hari SBS terjun ke tengah masyarakat, menembus batas desa dan kampung untuk memastikan keberadaan posko-pokso di desa-desa dan para petugas di posko-posko. Dia rela terjun ke desa-desa untuk memeriksa apakah paramedis siaga di puskesmas dan polindes? Nyaris setiap hari juga SBS menggelar dan memimpin rapat lintas sektor untuk mengevaluasi dan merencanakan langkah lanjutan mengganyang Covid-19.
Inilah tipe pemimpin yang ingin agar roda pemerintahan berjalan dan bergerak bersama dan seirama. Tipe pemimpin yang tidak mau hanya duduk manis di kursi empuk di kantor dan hanya mendengar laporan dari bawah yang terkadang asal bapak senang (ABS).
Sebagai kabupaten baru, Kabupaten Malaka sangat beruntung memilih dan memiliki SBS menjadi kepala daerah pertama. Orang bilang, langkah pertama menentukan ribuan langkah berikutnya.
Ketiga, membranding Malaka. Tampilnya SBS di pucuk pimpinan Malaka tentu bukan terutama ingin mengejar kekuasaan dan dengan kekuasaan itu melipatgandakan kekayaan pribadi. Untuk urusan ini, boleh dibilang SBS sudah ‘selesai’. Sudah selesai dengan dirinya. Sudah selesai dengan keluarganya. Motivasi untuk memimpin Malaka, dengan demikian, tidak karena dorongan mengumpulkan harta guna mengamankan hidup dan kehidupan pribadi dan keluarga. Tanpa menjadi bupati, SBS sudah masuk dalam kalangan the happy few, kalangan berpunya.
Lantas apa yang ingin dikejar SBS ketika nekad merebut kursi Bupati Malaka? SBS bertekad merebut kursi panas itu karena ingin agar Malaka punya branding di NTT, bahkan juga di Indonesia. SBS ingin agar Malaka punya merek sendiri, punya sesuatu yang dikenal, yang menjadi cirinya sebagai sebuah kabupaten.
Di dunia pemasaran (marketing), branding itu sangat vital dan penting mendongkrak kepercayaan dan nilai jual. Handphone merek nokia sebenarnya sangat bagus dan jauh lebih unggul. Tetapi nokia kalah branding dan tergilas oleh handphone merek samsung yang kemudian menguasai pasar dunia. Pemilik kendaraan bermotor pasti memilih oli merek top-one, sementara ahli mesin (montir) tidak mau memilih oli mesin merek ini.
Dengan branding sesuatu dikenal. Sama seperti itu, SBS ingin agar Malaka mempunyai nama besar dan dikenal luas. Ketika bertekad menggelar pertandingan El Tari Memorial Cup di Malaka tahun 2019 silam, semua orang terperangah dan ragu. Keraguan itu wajar. Malaka ketika itu belum punya apa-apa. Lapangan bola kaki berstandar PSSI tidak ada. Hotel kelas melati saja masih bisa dihitung dengan jari tangan. Para pemain dan kontingan dari semua kabupaten menginap di mana?
Tetapi dengan tekad yang kuat dan keberanian yang membaja, pemerintah di bawah SBS menjawab keraguan itu. Semua persiapan dilakukan. SBS tanam kaki, mengikuti dari hari ke hari semua tahapan dan langkah persiapan. Tiga lapangan bola kaki berstandar PSSI di sekitar Betun disiapkan. Lapangan Bola Kaki Betun bahkan bisa digunakan untuk pertandingan malam hari.







