Surga yang Terluka

Kons beo5

Oleh P. Kons Beo, SVD

“Kita bersaudara, sehingga tidak perlu saling tegang. Surga itu terlalu luas. Tidak perlu memonopoli surga untuk diri sendiri” (M. Quraish Shihab)

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Sempat terbayang. Surga kini bukanlah alam damai abadi. Ia tak lagi jadi warta tentang atmosfer sejuk selamanya. Bahwa nantinya,  manusia,  setelah kesementaraan ini, akan alami keindahan hidup. Kekal. Tanpa batas waktu.

Bertahun-tahun lamanya surga jadi orientasi pasti hidup abadi nan asri. Konon, itu pun jika ada tiket spiritual dan moral yang meyakinkan. Sebab itulah kebaktian digalakkan. Ulah kesalehan ditingkatan. Doa, sedekah dan puasa dicermati penuh teliti. Perilaku mesti dirawat selalu senonoh. Manusia tak boleh kerusakan apalagi kehilangan tiket surgawi itu.

Maka surga, jadinya, diinisiasi lewat sikap lahir dan batin yang over-atentif. Penuh cemas, jauh dari spotanitas dan seadanya. Tak hanya surga, neraka pun dapat ‘tempat utama.’ Isi-materi hidup manusia ada dalam batasan forma surga neraka itu.  Manusia bisa saja ‘terpaksa hidup saleh dan baik’ agar bisa miliki surga itu. Pun agar lolos dari api kekal. Agar ‘jangan sampai ditelan si jahat. Dan dimangsa kegelapan.’

Namun, kini, di atas segalanya, surga – neraka sudah jadi ‘hak paten.’ claiming tentang surga dan neraka digencarkan dalam propaganda.  Dihebohkan dalam tekanan.

Kudeta manusia terhadap Tuhan sudah dan terus terjadi. Tuhan adalah Pencipta segalanya. Tetapi, sepertinya tidak berlaku untuk surga. Tampaknya, manusia lah yang ‘mendesain’ surga. Lalu mengangkat dirinya sendiri jadi agen resmi jalan menuju surga dan bahkan jadi pemilik sah surga.

Tetapi lihatlah! Ali-ali tampil sebagai agen resmi dan pemilik surga, yang ditampilkan dalam geliat laku tak lebih sebagai calo-calo. Mimbar dan ruang pewartaan adalah arena kepastian surga dan neraka. Pewartaan yang menakutkan. Jauh dari gema konsolasi spiritual. Yang mencerahkan dan yang menentramkan batin. Yang terlahir hanya rasa puas yang kasar dan tak membatin.

Para ‘elit spiritual bermodal baju agama dan segala atribut agama’ malah sering terlihat kesurupan atas pertanyaan, “Apakah hukumnya….” untuk satu kisah dan perilaku tertentu. Tak peduli pada jawaban yang rapuh, dengan modal referensi seadanya, dan berbasis jenjang keilmuan penuh kibulan, diyakini sudah penuhi syarat minimalis.

Yang terpenting adalah ‘pakaian agamis dan suara gelegar ‘ sudah teracik jadi jalan indah untuk dibenarkan dan diamini massa.

Surga jadinya terancam. Bahkan terluka pula. Para agen atau calo tiket surga bahkan sudah ciptakan polarisasi masyarakat manusia. Sepertinya telah punya hak luar biasa untuk tegaskan: Ini kelompok masuk surga dan yang lainnya kelompok api neraka kekal.

Hembusan surga kontra neraka sudah cukup untuk mencabik persekutuan. Meretakkan persatuan. Menciptakan alam polusi perdamaian, harkat dan martabat kemanusiaan.

Surga yang terluka telah jadi awal iklim multi religio yang rapuh dalam toleransi. Sebabnya mudah ditebak. Sebab para penceramah saleh abal-abal sekian mudah melihat ‘setan ada di mana-mana.’ Katanya, setan telah menyelinap, dan diyalkini ada “di hari Minggu, di hari biasa, dalam pakaian, minuman, dan kerianggembiraan.”

Surga yang terluka pun terbias dalam tegasan-tegasan liar gelegar. Tembok kesalehan surgawi dibangun sejadinya. Maksudnya? Agar yang laknat, sesat, haram dan kafir jangan bebas liar untuk bercampur. Lintas pemisah mesti tegas.

Surga yang terluka juga terekspresi dalam ancaman, gertak dan teror. Dan lagi, penghakiman membenarkan kekerasan, penindasan, penguasaan dan aneka intimidasi. Perang dan penghancuran adalah jalan terbaik dan  suci pula. Garis pemikiran lainnya?

Mesti diberi ganjaran (reward) bagi yang saleha agamis. Dan hukuman (punishment) harus dijatuhkan bagi yang dianggap laknat dan kafirun.

Ternyata? Surga yang sejati telah dirampok manusia dari kuasa Tuhan. Dan di tangan manusialah surga itu difermak sana-sini. Dia telah jadi surga yang terluka. Yang punya alam sungguh angker. Menghalalkan nafsu dan kenikmatan karnalik tanpa jedah. Membasuh diri dengan darah kekerasan terhadap sesama. Dan katanya, “Bunuh diri dan menghancurkan orang lain agar segera masuk surga.”

Bagaimana pun, Tuhan tetaplah mahabenar dan mahakuasa. Guru-Guru kesalehan mengajarkan setidaknya surga itu dikembalikan pada marwah yang seharusnya.

Isa dari Nazareth ajarkan para murid dan pendengarNya untuk berseru kepada Bapa Surgawi, “Jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.” Surga yang dikehendaki Tuhan mesti menjadi orientasi hidup manusia. Yang damai, rukun, penuh getaran spirit kekeluargaan. Dan itu mesti terjadi kini dan di sini. Di atas bumi ini. Bukan hanya pada surga eskatologia semata.

Maka ditemukan kembali surga yang semestinya. Itulah surga telah tersembuhkan. Untuk menangkap secara bebas harapan Isaias, yang jauh sebelum Isa, bernazar, seperti apakah surga yang tersembuhkan itu.

Ketika: ‘Serigala tinggal bersama domba; macan tutul berbaring di samping kambing; anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama’ (cf.Yes 11:9). Tentu semuanya dalam alam damai dan keteduhan hati.

Jelang Tahun Politik 2024, Tanah Air mesti siaga dan terbebas dari ancaman sloganisme dan propaganda fragmentaris berbasis surga – neraka . Yang hanya melukakan, menceraiberaikan, dan terutama sungguh menghancurkan.

Bisa saja calo-calo surga yang terluka lagi mendesain tiket.. merancang modus yang mengecohkan. Bukan kah ini yang telah terendus di waktu-waktu belakangan ini?

Verbo Dei Amorem Spiranti

Villa Sandra – Portuense

Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma

Pos terkait