Tuhan Sungguh Menatapku

Kons Beo5
(satu perenungan adventus: menanti Tuhan yang peduli)

Tatapan sarat sinis, penuh cibir, pelototan mata, hingga tak ada lemparkan pandangan atau ‘buang muka.’ Ada sesuatu yang lagi ‘bikin hati sungguh gusar serta penuh benci mendengki.’ Entah kah telah berapa kali kita sorotkan mata tajam dalam raut wajah sekian sangar?  Namun….

Renungkanlah tatapan Tuhan bagi kita. “Tak pancarkan marah biar sengsara…” Itu lukisan syair sebuah lagu di Masa Prapaskah. Tuhan menatap kita ‘sungguh penuh dan terbagi.’ Di dalam segala kelebihan dan kehebatan kita.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Tuhan telalu kuat serentak lembut pula untuk menatap kedirian kita yang rapuh, lemah, tak berdaya serta segala erornya kita di hari silam dan di segala kisah kita yang dulu itu! “Tatapan mata Yesus bukanlah kebaikan hati yang sementara dan samar-samar. Ia memandang orang sebagaimana adanya.

Tatapan Yesus, Tuhan, adalah pandangan dalam ‘kebenaran yang utuh.’ Yang tak dapat disembunyikan oleh segala ‘kekuatan dan kehebatan manusiawi kita.’ Saat Tuhan menatap setiap kita, di situlah kita segera terlepas dari segala belenggu ‘kepura-puraan, dan masuk dalam terangNya.’

Si Bijak tetap ingatkan kita, “Pandangan Yesus membuka semua topeng yang kita gunakan dan menata kembali wajah-wajah palsu, yang tadinya kita tunjukan kepada dunia.” Tidak kah dalam jumpa keseharian  yang sederhana hingga perdebatan penuh sengit, wajah-wajah itu sekian dipertebal dengan sekian banyak kepalsuan?

Wajah-wajah palsu itulah yang mudah dan jamak terlihat  di TV dan berbagai media sosial,  di hadapan publik, dan bahkan di mimbar suci sekalipun. Orang-orang nampaknya tegar dan lantang suarakan ‘seolah-olah tentang kebenaran dan kepastian.  Namun semuanya dalam wajah yang dipersolek kepalsuan.’

Pos terkait