Tuhan Sungguh Menatapku

Kons Beo5
(satu perenungan adventus: menanti Tuhan yang peduli)

Di situlah sesungguhnya mesti  ditemukan makna terdalam dari gerak suci pertobatan. Setiap kita memang sepantasnya bergerak ‘Aku harus pulang…’ Untuk lunturkan semua harum parfum, olesan gincu, bedak dan lipstik kepalsuan.

Saat keasyikan tebalkan wajah dengan segala yang samar itu, tatapan Tuhan, sebaliknya, menuntun kita untuk berpaling padaNya. Allah sungguh rindu menatap kita. Satu refleksi alkitab tunjukan kita betapa malunya Adam dan Hawa dalam cawat untuk tutupi ketelanjangannya dari pencaharian Tuhan. Tetapi, disinyalir, ketelanjangan dalam baptis dalam Gereja awal ‘adalah tanda bahwa rasa malu sudah berakhir.’

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Yang lama, usang serta telah ‘tua,’  yang ‘sudah-sudah itu’ mesti berlalu untuk ditatap penuh harapan dalam Tuhan. Terenunglah kita akan kata-kata penuh makna dari st Gregorius dari Nyssa, “Dengan melepaskan daun-daun tua yang menutup hidup kita seharusnya, sekali lagi, kita menghadirkan diri di hadapan Pencipta kita.”

Tidakkah primavera tunas-tunas jatidiri dan ziarah hidup selanjutnya menuntut keberanian serta kerendahan hati musim gugur untuk ‘lepaskan daun-daun tua dan usang?’ Iya, angin musim gugur biarkan tanggalkan semuanya yang kerontang itu. Namun ‘tatapan lembut Matahari musim semi’ adalah harapan demi derap tunas-tunas baru di langkah berikutnya.

Yakinlah tatapan Tuhan tak pernah mengadili dan menghukum walau ‘dengan sinar matanya yang lebih tajam dari matahari.’ Kata Walt Whitman, “Ia mengadili tidak seperti seorang hakim mengadili, namun seperti surya menyinari sesuatu yang tak berdaya…”  Selanjutnya…?

Pos terkait