Kini, tinggallah kita baharui cara kita menatap dunia dan sesama. Ditatap oleh Tuhan dalam kasih dan kebenaran ilahi adalah kekuatan kita untuk beranikan diri untuk menatap sesama dalam kasih dan kebenaran pula. Hal yang tak mudah dinyatakan.
Tatapan seperti itu pasti menuntut pertarungan demi ‘transformasi sinar mata dalam memandang sesama. Bola mata kristiani sungguh menembus kabut kebohongan dalam menilai orang lain. Kebohongan terbesar itu nyata saat kita “memandang orang lain tanpa belas kasihan, menutup mata kita terhadap kebaikan mereka sebagai manusia dan membebani mereka dengan dosa-dosa mereka.”
Dari Getsemani hingga ke tiang kemenangan bukit Kalvari, Yesus, Tuhan, menatap semuanya dalam kasih. “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” (Mat 26:50). Ada tatapan dan ungkapan kasih Yesus akan Yudas Iskariot, sang pengkhianat. Di hadapan Mahkamah Agama, dapat dibayangkan tatapan sejuk Tuhan pada Petrus, yang menyangkalNya. Dan lantas, “Petrus pergi keluar dan menangis dengan sedihnya” (Matius 26:75).
Yesus, dalam deritaNya masih tetap teguhkan hati para perempuan Yerusalem yang meratapiNya. Ia menatap dan meneguhkan semuanya tetap dalam ‘kasih dan kebenaran’ itu (cf Lukas 23:27-28). Dan pada puncaknya, bukan Kasih dan Kebenaran lah yang memeteraikan semuanya? Saat Yesus sunggh larut dalam doa pada Bapa, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).
Sungguh, pada akhirnya, kebenaran Injili mesti dibuktikan bahwa ‘tatapan dan kata-kata penuh benci, ketidaksukaan, amarah, dendam serta segala rancangan untuk membalas sepatutnya diluluhkan dalam pengampunan. Dan mari memulai semuanya dalam langkah baru penuh iman, harapan dan kasih serta kebesaran jiwa di dalam Tuhan sendiri.





