“Uccidete Me, Non La Gente”

Kons Beo1

Adakah kekuatan di balik tindakan nekadnya? “Dove trova il coraggio” Di manakah ditemukan keberanian itu? Tanya Matteo Maria Zuppi, yang menulis Pengantar di buku itu. Persoalan bukan terletak pada ‘coraggio’ (keberanian). Tetapi semuanya bertolak dari amore (kasih). Apa arti sebuah keberanian ketika ketakutan (sikap pengecut) tetap membayangi? Toh, setiap manusia memiliki risiko ciut nyali dan hati rentan. Tetapi lain halnya bila segalanya bertolak dari amore. Segala risiko apapun menjadi sahabat karib yang mesti dihadapi.

Benarlah Zuppi! Siapapun yang berjalan dalam damai dan mengusahakannya, pasti tak berminat sedikitpun untuk memiliki musuh. Siapapun yang berani memandang langit, yang percaya kepada Tuhan sedikitpun tak punya seteru untuk ditumpaskan. Mengusahakan damai selalu berarti memberi diri dan mengulurkan tangan kepada yang lain. Damai itu bukanlah soal menang dan kalah.  Damai bersentuhan akrab pada kedalaman afektif dan sikap batin jujur. Semuanya demi merangkul sebagai saudara-saudari dalam kemanusiaan. Ya, cerita damai, walau berjalan dalam konflik, tetap selalu miliki harapan akan persatuan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Via Crucis Myanmar:  Derita Tanpa Akhir Pasti?

Kisah pilu di Myanmar di hari-hari ini berawal sejak 1 Februari 2021. Kudeta militer pimpinan Jendral Min Aung Hlaing merebut kekuasaan Pemerintah Aung San Suu Kyi. Rasa tak puas seantero negeri tak terelakkan. Gelombang protes warga sipil penuh risiko menantang pihak keamanan dan militer. Ann Rose bersaksi Gereja Katolik punya keberanian dalam menantang kisah penuh duka itu. Para imam, kaum religius, para seminaris, serta umat memenuhi jalan. Bergabung dengan sebagian masyarakat sipil lainnya. Tentu dengan cara-cara damai dan sejuk.

Pos terkait