“Uccidete Me, Non La Gente”

Kons Beo1

Ann Rose, biarawati kelahiran 1977 itu, mengungkapkan keyakinannya turun ke jalan dalam protes damai itu. Kata-kata Paus Fransikus dalam Evangelii Gaudium telah jadi dorongan besar. Yang lebih disukai Paus Fransiskus adalah Gereja yang ‘terluka dan kotor’ yang berada di jalanan, ketimbang Gereja yang memelihara rasa nyamannya sendiri (cf EG 49). Warga masyarakatpun, seturut Sr Ann Rose, tak melupakan begitu saja kisah-kisah protes damai yang terjadi di Manila, Korea Selatan, yang patut dicontohi.

Di peristiwa kali ini, malah sekian banyak kaum muda yang sungguh berani bertarung. Pengalaman (studi misalnya) kaum muda Myanmar di luar negeri semisal di Inggris, Italia atau Amerika, telah membuka cakrawala berpikir. Kaum muda menggugat atas nama kebebasan, hak-hak asasi manusia, terutama atas dasar martabat manusia! Myanmar harus dibebaskan dari perbagai tindakan opresif melawan kemanusiaan. Dan bahwa hidup dalam damai adalah hak dasariah di seluruh negeri.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kisah di hari Minggu, 28 Februari, 2021 sungguh membekas. Berbagai kelompok kaum muda di Myitkyina tumpah ruah dalam satu demo damai. ‘Perjumpaan’ dengan serdadu (militer) tak terhindarkan. Mata Sr Ann Rose sungguh yakin, kisah berdarah pasti akan segera terjadi. Tak ada pilihan lain, selain dalam kekecilan penuh kasih, mesti berhadapan militer bersenjata. Dalam tangisan penuh emosi, sambil berlutut dan mengangkat tangan, dan Ann Rose berkisah, Kalau kalian ingin melibas warga masyarakat, dan ingin menembak para demontran, lakukan semuanya itu pada saya sebagai gantinya…” Kekerasan pasti tak terhindarkan, “Kalian bunuhlah saya, dan jangan warga masyarakat!”

Pos terkait