Ada keberanian dalam diri Sr Ann Rose untuk bersikap demikian. Ia tak menginginkan adanya pembantaian sekian banyak orang bagai binatang, seperti terjadi di Yangon, Mandalay dan Naypyidaw. Sayangnya, polisi dan militer cuma diam dan mundur sesaat, dan lalu kembali gunakan cara-cara kekerasan dalam menangkap para demonstran.
Hari-hari Sr Ann Rose tetaplah dalam persekutuan via crucis masyarakat sipil Myanmar. Merawat sekian banyak demonstran adalah kisah kesehariannya. Kesempatan untuk rayakan ekaristi di gereja terhenti. Toh, Tuhan pasti pahami apa yang tengah dialami. Bertahan dan terus bertahan dalam sikap berlutut dalam waktu cukup lama adalah pilihan apa adanya dan terbaik. Pilihan seperti ini melampaui ajakan pimpinan umum tarekat atau bahkan permintaan Uskup sendiri untuk segera kembali pulang.
Apakah yang dicari Sr Ann Rose? Popularitas? Pencitraan? Berbagai keuntungan di atas derita Myanmar, tanah airnya? Jika atas nama cinta, segalanya bisa dipertaruhkan. Hidup adalah satu penyerahan diri. Tanpa syarat. Semuanya demi martabat kemanusian dan demi keadaan hidup bersama dalam kedamaian. Kasih dapat mengubah segalanya.
Keberpihakan bagi Sr Ann Rose tentu tak sebatas satu keberpihakan kata. Tetapi ia nyatakan dalam aksi nyata. Tak cuma pada tindakan karitatif membalut yang terluka. Tetapi bahwa perjuangan demi justice and peace mesti digemakan, walau sebatas berlutut di hadapan kekuasaan yang sangar dan tiran. “Credo che Dio si sia servito di me, nel momento in cui mi sono inginocchiata di fronte ai militari. Mi ha dato lo Spirito Santo,” ungkap Sr Ann. Apakah yang mesti dicemaskan bila cinta sungguh dimeterai oleh keyakinan bahwa Allah selalu bersama dalam anugerah Roh Kudus?





