“Uccidete Me, Non La Gente”

Kons Beo1

Cinta yang diperlihatkan Sr Ann Rose itu pun tak hanya terarah pada para korban fisik (demontran). Tetapi ada rasa cinta tulus terhadap para serdadu militer dan para polisi. Mereka telah menjadi ‘korban’ dari satu cara pandang dan nafsu akan kekuasaan milik segelitintir orang, yang berimbas tragis pada warga sipil yang tak bersalah. Itulah wajah dunia, pun dalam satu kebersamaan manakala nafsu akan kuasa dan rasa superior elitis telah merasuk. Di situ, keadaan suram kebersamaan pasti tak terelakan.

Harapan Akan Myanmar  Nan Teduh dan Damai

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

 Rakyat Myanmar sungguh rindukan keadaan damai penuh kasih. Myanmar di hari dan di tahun-tahun kemarin adalah Myanmar yang teduh, nyaman dan damai. Namun kini semuanya sepertinya telah berlalu. Myanmar kini dilihat sebagai “un paese dove regnano la paura e la tristezza,” ungkap Sr Ann. Ya, Myanmar sungguh dikuasai oleh ketakutan dan kesedihan. Entah kapan darah dan air mata berhenti mengalir?

Sejak Giunta Militare berkuasa di tahun 1962, Myanmar terperosok kembali ke alam menyedihkan. Kemerosotan di bidang pendidikan sungguh nyata. Keadaan sosial ekonomi masyarakat yang sungguh tak berkembang.

Bagaimanapun, Myanmar mesti tetap menjadi negeri penuh harapan! Harapan akan Keadilan, Cinta dan Perdamaian. Keadaan genting penuh kekerasan itu hanya bisa diteduhkan oleh niat baik dan kehendak tulus semua pemimpin politik dan religius untuk terlibat dalam komunikasi dan dialog yang jujur. Dan lebih dari itu, seturut Sr Ann Rose, saling mengampuni adalah pilihan dasar yang menjadi keharusan.

Pos terkait