“Umat Allah Terkasih, Maafkanlah Kami…..”

kons beo2

Di Kathedral tadi memang kisah itu tampak sederhana. Bisa pula ditafsir enteng: ‘Umat selalu rela dan penuh perhatian serta berkorban. Itu semua demi para imamnya. Rasa persaudaraan memang lahir pula dari kesediaan hati untuk mengalah. Untuk membiarkan dan melepaskan penuh tulus.’

Bagaimana pun….

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Jika mesti jujur dengan pikiran ‘nakal dan liar mengembara’ mestinya saya apa adanya bilang pada Uskup Budi. “Tuan, di hari tahbisanmu, karena kami sekelompok ini, ada sekelompok besar umat yang mesti _tersingkir dari bangku gereja_ . Entah ke mana mereka sesudahnya? Di sketsa pengalaman lainnya, saya memang mesti periksa diri dan tahu diri bahwa karena saya lah, imam – pastor ini, ada sekian banyak siapapun yang telah tak terhitung lagi dalam Kasih Persaudaraan.

Sepertinya umat tidak lagi merasa memiliki bangku di dalam gereja. Mungkin semakin pudar rasa Kasih Persaudaraan.

Apakah…..

Rasa hati ini yang terlalu dramatis dan penuh sentimentalnya? Rasanya tidak juga! Sebab, sekecil apapun sebuah kisah dan kenyataan yang terjadi mesti ditangkap arti di baliknya! Sekolompok umat yang mesti tinggalkan bangku gereja, justru pada hari tahbisan uskupnya, pasti pulang membawa dan menyimpan kenangan yang tak terlupakan.

Dan….

Di saat uskup Budi tinggalkan  ‘Cathedra’- nya, untuk menyapa umat Allah, saat Uskup tinggalkan area dalam Kathedral, saya pribadi membayangkannya sebagai gembala yang menyapa umat Allah. Semoga ada ‘rasa terjumpai dan tersapa oleh uskup’ untuk sekelompok umat Allah yang tadi itu ‘mesti pergi karena kami mesti tempati bangku mereka tadi.’

Pos terkait