Oleh Tony Kleden
Pergerakan Emanuel Melkiades Laka Lena di ajang Pemilihan Gubernur (Pilgub) NTT semakin masif. Pergerakan anak Ende ini sangat kasat mata. Nyaris tiada hari tanpa aksi di lapangan. Dari satu kabupaten ke kabupaten lain.
Seumpama kontestasi Pilgub NTT adalah orkestra, maka tidak berlebihan menyebut Melki Laka Lena adalah konduktornya. Dia jadi tokoh utama, pemeran kunci yang menghangatkan dinamika Pilgub NTT hari-hari ini.
Setelah tuntas di daratan Timor dan Sumba, Rote dan Sabu, Melki Laka Lena menyeberang ke daratan Flores, Lembata dan Alor. Timor, Sumba, Sabu dan Rote, yang merupakan daerah pemilihan (Dapil) NTT 2, adalah basis politiknya ketika Melki Laka Lena maju pada pemilihan legislatif (Pileg) dua periode terakhir.
Dua kali maju pileg di Dapil ini, sarjana farmasi jebolan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini mendulang suara signifikan. Pada Pileg 2019, Melki tembus ke DPR RI. Ketika itu Melki pendatang baru di Dapil NTT 2. Dia bahkan ‘dijepit’ sejumlah tokoh publik lain yang ikut bertarung.
Toh, dia lolos ke Senayan. Di Senayan dia bahkan dipercayakan dan dimandatkan Partai Golkar untuk duduk sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI. Kepercayaan ini jadi istimewa karena tidak lazim Golkar menunjuk pendatang baru di Senayan memimpin komisi.

Pada Pileg 2024, Melki kembali maju dan mendulang 95 ribu lebih suara yang ikut menyumbang 2 kursi Golkar ke DPR RI dari Dapil NTT 2. Ditambah dengan satu kursi di Dapil NTT 1 (Flores, Lembata, Alor), Golkar menjadi satu-satunya partai di NTT yang mengirim 3 wakil ke Senayan.







