Oleh Pater Kons Beo, SVD
Bacaan I Yesaya 43: 16 – 21
Mazmur Tanggapan Mzm 126:1 – 6
Ref: “Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita”
Bacaan II Filipi 3: 8 – 14
Injil Yohanes 8: 1 – 11
“Apakah pendapatmu tentang hal ini?”
Yoh 8:5
(Tu ergo quod dicis?)
Kawan ku…
Banyak cara yang diambil orang-orang Farisi dan para Ahli Taurat untuk membenarkan tindakan mereka. Tak mungkin mereka tak paham bahwa ‘akhiri hidup sesama’ itu tak dibenarkan oleh Yesus.
Namun kawan ku…
Di kisah perempuan yang kedapatan berzinah, kaum elitis keagamaan ini ingin perjuangkan dua tujuan utama:
Tanda kesetiaan pada Taurat Musa yang membenarkan ‘darah dan kematian.’ Mereka sendiri tak bersalah atas perajaman itu, sebab itulah Perintah Musa. Mungkin kah ini yang disebut ‘panggilan moral sosial yang wajib ditaati?’ Ingin diakui sebagai orang benar dan taat.
-Yesus, yang tak setuju atas rencana pelemparan terhadap perempuan itu, sudah jelas akan dibenturkan dengan Taurat Musa. Hukum yang mesti ditaati.
Sikap Yesus yang ‘kontra Taurat Musa’ bakal jadi jalan bebas hambatan agar IA dapat dipersalahkan. Dan lalu harus dihukum.
Kawan ku…
Begitulah alur dan aura kehidupan penuh benci, iri dan dengki. Selalu saja diperjuangkan segala cara untuk ‘membenarkan diri dan tindakan’ agar yang tak disukai itu segera disingkirkan atau bahkan ditamatkan.
Kawan ku…
Kenapa kah kita sungguh membenci sesama kita ya? Ingatlah kata-kata guru kita di hari itu:
”Dikau jadi benci dan tak suka terhadap sesama sebab dikau sungguh terlekat erat pada kepentinganmu. Dan buruknya, sesama (tertentu) itu segera dilihat sebagai simbol ancaman! Dia, tak lagi kau pandang sebagai pribadi, sebagai sesama. Namun, sudah berubah sungguh hanya sebagai musuh yang kau persalahkan telah ‘mencuri rasa amanmu yang dibungkus dalam kepentingan atau ambisi.







