Oleh Kons Beo, SVD
“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Galatia 3: 28).
Tampaknya bernada emosional si Paulus, Rasul Kristus itu. Ia terbawa rasa dalam tanya, “Apakah Kristus terbagi-bagi?” (1Korintus 1:13).
Reaksi Paulus tentu bukan tanpa alasan. Terendus bau-bau retak dan pecah dalam jemaat Korintus.
Ada faksi-faksi dalam jemaat. Ada yang yakini diri dari golongan Paulus, Apolos, Kefas, dari golongan Kristus! Wah, gawatlah sudah! Teringat lagi kala itu di ruang kuliah tentang ‘Surat-Surat Paulus.’ Korintus itu kota pelabuhan ramai di masanya. Ia jadi salah satu kota destinasi dari komposisi warga beragam latarnya.
Paulus, sebagai pewarta Injil keselamatan, mesti berupaya keras. Semuanya agar komunitas yang varian background itu bisa tertenun dalam semangat “bersatu dan sehati sepikir” (1Korintus 1:10).
Bila ditafsir kasar, Paulus tampak galau sekiranya dalam Jemaat ada ‘kubu-kubuan.’ Kelompokisme sempit bisa jadi racun yang lemahkan semangat koinonia-komunio atau persekutuan itu.
Kubu A, B, C masing-masing rasa diri sendiri ‘lebih benar, baik, asli.’ Dan sejumlah besar titik lemah dan kurangnya milik Kubu lain tercatat sebagai daftar hitam. Dan itu mesti dikampanyekan! Maksudnya, jemaat Korintus asal Yahudi, misalnya, yakin diri sendirilah yang benar. Dan mereka miliki daftar hitam tentang jemaat non Yahudi, dari turunan Yunani, misalnya.







