May Day Tak Sekadar Tanggal Merah

ANSEL ATASOGE2

Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge

Tanggal 1 Mei menjadi tanggal yang spesial. Orang kebanyakan menyebutnya sebagai ‘tanggal merah’. Tentu dia beda dengan ‘nilai merah’ pada buku Rapor Pendidikan. Dunia internasional menyebutnya sebagai ‘May Day’.  Hari peringatan untuk merayakan perjuangan, kontribusi, dan pencapaian para pekerja serta kelas pekerja di seluruh dunia dalam memperjuangkan hak-hak ketenagakerjaan dan keadilan sosial. Ungkapan kerennya ‘International Workers’ Day’ (Hari Buruh Internasional).

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Sejarah mencatat bahwa peringatan ini berakar pada peristiwa ‘kerusuhan Haymarket’ di Chicago, Amerika Serikat, pada 1 Mei 1886. ‘Kerusuhan Haymarket’ di Chicago, Amerika Serikat, pada 1 Mei 1886. Ketika itu, para pekerja menggelar aksi demonstrasi menuntut hari kerja delapan jam dan tuntutan akan kesejahteraan hidup yang lebih baik. Aksi berakhir dengan berdarah-darah.

Tragedi berdarah inilah yang menjadi inspirasi gerakan buruh internasional untuk menjadikan 1 Mei sebagai simbol perjuangan hak pekerja. Hak mereka sebagai pekerja. Substansi peringatannya adalah kenangan akan perjuangan historis gerakan buruh dalam meraih hak-hak dasar mereka. Di sisi lain, di momen ini disoroti pula isu ketenagakerjaan yang merupakan salah satu isu yang senantiasa relevan hingga kini seperti upah layak, jam kerja manusiawi, keselamatan kerja dan jaminan sosial.

Dua substansi lainnya pun tak kalah sengitnya. Pertama, mendorong solidaritas global antarpekerja lintas negara untuk terus memperjuangkan keadilan ekonomi dan sosial. Kedua, menghargai kontribusi pekerja terhadap pembangunan ekonomi dan kemajuan masyarakat. Jadi, aksi-aksi demonstrasi yang selalu dihadirkan oleh siapapun di tanggal 1 Mei sebenarnya mau mengarahkan siapapun juga kepada substansi memoria ini.

Pos terkait