Dalam prosesnya mengolah biji kopi, kata Rudol, biji kopi dalam bentuk green bean yang diambil dari para petani kopi kemudian diolah menggunakan mesin seadanya. Selanjutnya diolah dengan menggunakan mesin penggorengan hasil bantuan dari Kementerian Desa.
“Selama ini (penggorengan) masih pakai manual. Dengan mesin penggorengan bantuan dari Kemendes ini untuk menghasilkan bubuk kopi. Proses penggorengan selama satu jam untuk 10 kilogram. Satu hari mampu mencapai 30 kilogram bubuk kopi medium dark yang siap dikemas,” urai Rudol.
Dalam tahapan pengemasan, Bumdes Poco Nembu mendapat bantuan mesin kemasan dari Bank NTT. Bantuan mesin ini didapat setelah Bumdes Poco Nembu menjadi salah satu usaha binaan Bank NTT Cabang Borong, Manggarai Timur.
“Mesin kemasan merupakan bantuan dari Bank NTT. Ini karena ide awal untuk membentuk sebuah tempat produksi kopi saset merupakan hasil komunikasi dengan pihak Bank NTT yang dari awal selalu memperhatikan Bumdes kami. Sementara untuk satu kali produksi, mesin ini mampu menghasilkan 83 bungkus kopi saset yakni Kopi Poco Nembu,” tuturnya.
Terkait pemasaran, Rudol menyampaikan kopi saset berupa kemasan ukuran 225 gram dan 250 gram ini nantinya akan dilakukan dalam bentuk grosiran. Untuk target jangka panjang, Bumdes Poco Nembo berharap mampu menjangkau hotel dan restoran yang ada di Pulau Flores.
Ia juga berharap hasil produksi kopi yang dipasarkan dalam bentuk kemasan mampu mengatasi masalah ekonomi para petani kopi.
“Harapannya para petani terlepas dari ijon yang menjerat. Kopi dari masyarakat kami terima, proses dan jual. Sehingga harga tidak ditentukan oleh cukong lagi. Kalau masuk dalam kemasan kopi dalam satu kilo itu kan harganya 20 ribu. Sementara kalau dalam bentuk liter, harga beli kita di petani itu 7 ribu rupiah sementara ijon belinya cuma 4 ribu rupiah. Mana buat masyarakatnya? Ditambah kalau ijon setahun tidak dibayar harganya itu naik berkali lipat,” tutur Rudolf.







