Bumdes Poco Nembu Colol Kembangkan Kopi Kemasan Saset

Matim bumdes colol1

Untuk mewujudkan keberlangsungan keberadaan produk Kopi Poco Nembo Colol tentu dibutuhkan kerja sama semua pihak. Salah satu tantangan besar adalah rendahnya sumber daya manusia. Untuk itu kehadiran pemerintah pusat melalui Kementerian Desa tidak hanya melalui pemberian bantuan mesin penggorengan, namun juga pada pendampingan dalam memberikan pelatihan dan peningkatan kualitas anggota Bumdes Poco Nembo Colol.

“Tantangan selama pendampingan adalah kekurangan sumber daya manusianya. Sumber daya alam banyak tapi SDM-nya kurang. Dari kami bagaimana mendorong peningkatan kapasitas SDM-nya untuk mengelola potensi desa melalui Bumdes. Selain itu banyak intervensi pemdes dalam Bumdes. Sementara seharusnya Bumdes badan tersendiri. Maka sekarang untuk Poco Nembo ini kami mulai meningkatkan kapasitas sehingga mereka tahu manajemen Bumdes itu sendiri sehingga tidak ada intervensi pihak lainnya,” ujar Ramli Ajar, Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa Kementerian Desa wilayah kerja Kabupaten Manggarai Timur.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Direktur Industri Dan Kelembagaan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores, Neysa Amelia, menegaskan pihaknya sangat senang dan mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh Bumdes Poco Nembo Colol ini yang mencoba menyentuh bagian hulu dan mengalirkannya ke hilir dalam industri pariwisata.

“Industri pariwisata adalah industri yang berada di hilir. Kita bisa juga mengembangkan bagian hulunya misalnya komoditas kopi yang kita harapkan bisa masuk ke industri hilir seperti pariwisata. Saya sangat senang bahwa sudah ada Bumdes yang fokus untuk pengemasan kopi dan itu sesuai arahan Pak Gubernur dan Dirut BPOLBF, Ibu Shana Fatina. Kita bisa memasok kopi-kopi dari Colol untuk pariwisata misalnya di hotel dan restoran sehingga tidak hanya memasok pasar-pasar domestik ataupun pasar-pasar yang sudah ada sebelumnya. Kita ingin mengembangkan produk-produk unggulan di masing-masing kabupaten yang dalam wilayah kerja kami di 11 kabupaten agar komoditas-komoditas unggulan ini bisa menjadi produk unggulan pariwisata. Entah itu berbentuk suvenir, karya ekonomi kreatif khusus, ataupun kuliner seperti kopi, dan itu nantinya bisa membantu memasok hilirnya pariwisata,” ungkap Neysa. (obe)

Pos terkait