Sorgum Cocok dengan Agroklimat NTT, Potensial Dikembangkan

Rafael Leta Levis3
Dr. Ir. Leta Rafael Levis, M.Nur, Mnt

Rafael  Levis menjelaskan, dalam mengembangkan sebuah komoditi ada dua aspek pokok yang menjadi perhatian, yaitu agroklimat dan sosial budaya.

“Banyak tanaman yang cocok dari aspek agroklimatnya tetapi tidak pas dengan sosial budaya. Sehingga banyak juga tanaman yang tidak berhasil dikembangkan. Dan NTT, untuk sorgum dua aspek ini cocok. Baik agroklimat maupun sosial budaya, masuk,” sebutnya.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Meski demikian, Rafael Levis membeberkan sejumlah aspek yang menjadi kendala dalam upaya pemenuhan ketahanan pangan dewasa ini. Di antaranya pemanasan global yang berpengaruh pada prediksi musim yang menjadi tidak akurat.  Karena, jenis tanaman tertentu akan tergerus akibat perubahan iklim.

Selain itu, perubahan iklim menyebabkan sumber air menjadi kurang. Hal lainnya adalah pandemi Covid-19 yang berdampak pada kegiatan ekonomi yang berakibat pada kurangnya produktivitas petani dan berpengaruh pada ketersediaan pangan.

“Juga soal perang Rusia dan Ukraina. Karena memang kita selama ini import gandum dari Ukraina cukup besar karena penduduk kita banyak dan konsumsi roti kita di Indonesia sangat tinggi. Bahan dasarnya gandum,” sebutnya.

Hal krusial lainnya di Indonesia, kata Rafael Levis,  adalah soal alih fungsi lahan yang marak terjadi di mana-mana.

“Contoh di Oepoi, Kota Kupang. Sebelum ada Flobamora Mall di tahun 2004 area itu merupakan persawahan, tidak ada rumah. Sekarang rumah penuh. Juga di Mbai, Nagekeo, Lembor di Manggarai Barat dan persawahan lain di Flores. Sudah banyak sekali alih funsgi lahan dan itu angat mengancam ketahanan pangan kita. Juga di daerah lain di Indonesia seperti Kerawang yang dulu gudang beras, sekarang berdiri pabrik-pabrik. Juga jalan tol Jakarta-Surabaya itu berapa banyak lahan yang terkooptasi. Ini ancaman serius soal alih fungsi lahan,” sebutnya.

Pos terkait