Sorgum Cocok dengan Agroklimat NTT, Potensial Dikembangkan

Rafael Leta Levis3
Dr. Ir. Leta Rafael Levis, M.Nur, Mnt

Ia menyarankan pemerintah agar segera membuka lahan baru yang masih tidur. “Saya pernah lakukan riset di tahun 2017 dan menyatakan bahwa 40 tahun lagi Indonesia kehilangan lahan produktif. Dan, hal hal krusial ini sangat risakn soal ketahanan pangan,” ujarnya.

Magister pertanian dari Australia ini mengatakan, di NTT saat ini pengembangan sorgum dengan tata kelola yang bagus dan sistematis hanya ada di Kabupaten Flores Timur oleh Ibu Maria Loretha. Sedangkan di daerah lain pemerintah mengatakan, sorgum itu penting tetapi perhatian dan dukungan dana untuk pengembangan sorgum hampir tidak ada.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

“Betul bahwa Pak Presiden mau jadikan sorgum sebagai yang utama tetapi di mana anggaran pemerintah untuk pengembangan sorgum? Ini yang perlu jadi perhatian pemerintah. Dari dulu saya mengamati bahwa pemerintah bicara soal diversifikasi pangan non beras dengan pangan lokal, tetapi anggaran untuk itu hampir tidak ada. Untung saja petani kita sudah terbiasa menanam itu, tetapi yang direncanakan secara sistematis oleh pemerintah itu tidak ada,” jelasnya.

Setelah Presiden menetapkan NTT sebagai salah satu wilayah untuk pengembangan sorgum, kata , kata Rafael Levis,  pemerintah daerah diharapkan segera melakukan perencanaan yang terfokus dan pemetaan lahan yang jelas.

“Di mana lahan yang berpotensi untuk pengembangan pertanian khususnya sorgum? Kelemahan kita di NTT adalah lahan kita sporadis. Untuk mencari lahan dengan hamparan luas, memang ada tetapi agak susah. Mungkin di daratan Timor dan Sumba lebih banyak dibandingkan Flores. Maka dibutuhkan keseriusan pemerintah untuk menata kembali lahan-lahan yang berpotensi untuk memproduksi pertanian, tetapi belum dimanfaatkan,” ujarnya.

Pos terkait