Sorgum Cocok dengan Agroklimat NTT, Potensial Dikembangkan

Rafael Leta Levis3
Dr. Ir. Leta Rafael Levis, M.Nur, Mnt

Rafael Levis juga menyebut persoalan kepemilikan lahan di NTT yang sifatnya komunal, bukan individu. “Ini yang perlu dicarikan solusinya sehingga lahan bisa dimanfaatkan. Butuh kehadiran pemerintah untuk menyelesaikan sehingga lahan bisa dimanfaatkan,” katanya.

Rafael Levis mengakui banyak masyarakat NTT yang belum familiar dengan budi daya sorgum. Karena itu dibutuhkan pendidikan sejak usia dini untuk memperkenalkan tanaman yang sangat adaptif dengan kondisi NTT ini.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

“Bahwa nenek moyang kita dulunya hidup dengan sorgum, dan itu sejarah yang tidak terbantahkan, sehingga generasi muda kita perlu diberi tahu. Kalau tidak maka ketika ada tantangan yang dihadapi mereka akan kesulitan. Padahal ada banyak solusi pangan alternatif di sekeliling kita,” katanya.

Doktor pertanian dari Universitas Brawijaya ini menyarankan agar perlu pelibatan petani milenial, sehingga ancaman krusial tentang ketersediaan pangan dan SDM petani bisa terjawab.

“Masalahnya, petani kita saat ini rata-rata usia 50-60 tahun ke atas. Orang muda belum terlalu masif terlibat di sektor pertanian. Sehingga perlu digalakkan bagaimana petani milenial. Kita di kampus sudah mulai bergerak dengan Merdeka Belajar, Kampus Merdeka. Kita di Faperta mengantar mahasiswa ke lokasi-lokasi pertanian selama satu semester sehingga di sana mereka akan tertarik dengan sektor pertanian kemudian mereka punya lahan dan bisa membuka usaha pertanian. Dan kami sudah arahkan agar mereka tidak boleh berharap pada PNS. Sektor pertanian adalah sektor yang sangat menjanjikan masa depan, dan dibutuhkan selama masih ada kehidupan di dunia,” katanya.

Pos terkait