Hal menarik lainnya, kata Petrus, APEKAM hadir sebagai wadah pendidikan dan pelatihan para petani kopi dan jahe. Petani mendapat pengetahuan pola pengolahan pertanian yang profesional dengan pendekatan teknologi.
Selain itu sebagai wahana perjuangan, penyalur aspirasi dan komunikasi timbal balik antara sesama petani kopi dan jahe serta organisasi seprofesi lainnya.
“Asosiasi ini juga merupakan wahana penggerak peran serta petani kopi dan jahe dalam semangat gotong royong dan menjadi wadah pembinaan serta pengembangan kegiatan-kegiatan petani kopi di Manggarai,” ungkapnya.
Menurut Petrus, tujuan utama dibentuknya APEKAM ini yaitu menyiapkan fasilitas pertanian dengan baik, menyiapkan tenaga dengan tingkat kredibilitas yang mumpuni, membiasakan petani mengolah pertanian yang baik dan benar.
Selain itu, juga berupaya mewujudkan petani yang mampu bersaing baik tingkat lokal, nasional dan internasional, meningkatkan harkat dan martabat para petani kopi dan jahe Manggarai, mewujudkan pola kemitraan yang sinergis dan berkualitas.
Oleh karena itu APEKAM lahir benar-benar berpihak pada kepentingan petani yang bersifat transparan, kredibel, dan akuntabel. Bahwa fakta yang terjadi selama ini, antara brand kopi Manggarai yang besar itu tidak seimbang dengan kemakmuran para petani kopi itu sendiri.
Petrus menambahkan, yang tergabung dalam asosiasi tersebut hanya petani kopi dan jahe saja yang didukung pihak Gereja Katolik. Hal itu dibuktikan dengan keterlibatan beberapa anggota Gereja bertindak sebagai penasehat dalam struktur organisasi APEKAM.







