Media kabarntt.co berkesempatan kunjung ke sekolah itu. Sebab jauh sebelumnya Humas SMAN 3 menginformasikan pemasangan fasilitas bantuan Menkonminfo untuk sekolah itu.
Menjejakkan langkah di halaman sekolah itu ada nuansa tersendiri. Dinamika kehidupan sekolah tetap mengikuti protokol kesehatan. Halaman sekolah teratak apik. Pot bunga segar berderet di teras sekolah. Siswa-siswi sedang duduk berpisah. Dua atau tiga orang. Ada yang lebih dari itu. Sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang utak-atik handphone. Ada juga sekadar ngobrol. Mereka asyik-asyikan.
Beberapa siswa-siswi sedang mengikuti penjelasan guru. Mereka tekun. Mata menatap layar handphone seraya sentuh fitur-fitur yang dibutuhkan. Beberapa siswa yang lain sedang belajar di kelas, dipandu guru mata pelajaran.
Balada Covid-19
Belajar di tengah pandemi Covid-19 memiliki tantangan tersendiri. Covid-19 mendaratkan jejaknya di Indonesia, 2 Maret 2020. Sejak saat itu penyebaran virus mematikan itu melesat bagai meteor. Menerobos seluruh pelosok Nusantara. Serangannya ganas. Serba cepat. Gesit. Grafik penderita naik terus. Korban berjatuhan. Ribuan anak manusia harus terkapar mencium tanah.
Sebelumnya Covid-19 menetas di Wuhan China, sana. Menenteng maut. Lalu pergi begitu saja. Meninggalkan anyir kematian di mana-mana. Tidak hanya korban jiwa. Terjangan virus itu melampaui semua sendi kehidupan manusia. Covid-19 menghalau dengan ganas. Serba cepat dan mematikan.
Di NTT Covid-19 terendus sejak ditemukan pasien terkonfirmasi positif covid-19 asal Kabupaten Alor. Menyusul Klaster Gowa. Klaster Magetan. Alumni penumpang KM Lambaelu. Klaster Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta. Pelaku perjalanan dan transmisi lokal menjadi lahan subur menyebarnya Covid-19. Hingga feature ini diumumkan kepada publik, tercatat 690 orang NTT terinfeksi Covid-19. 499 Orang dinyatakan sembuh dan tujuh orang lainnya dinyatakan meninggal.







