Covid-19, Pohon Pancasila dan Gairahkan Belajar SMAN 3 Borong

Kanis Lina 2 guru dan siswa

Menyikapi hal itu pemerintah daerah NTT menggerakkan semua kekuatan agar  mata rantai virus mematikan  itu dihentikan. Semua aktivitas berlangsung di rumah. Siswa-siswi dirumahkan. Siswa belajar secara online dari rumah. Namun belajar di rumah, menggunakan media daring di Manggarai Timur khususnya dan NTT umumnya menjadi tantangan tersendiri.

Tantangan tersebut menjadi dilematis. Sebab tidak semua kecamatan dalam wilayah Kabupaten Manggarai Timur punya jaringan telepon. Wilayah Kecamatan  Elar  dan Elar Selatan paling rawan.  Serba sulit. HP, sinyal HP dan  jaringan internet jadi mata rantai  kesulitan yang melilit. HP android ada, tapi sinyal jauh tak terjangkau. Kalau pun  beberapa siswa/siswi  punya handphone,  harus naik gunung guna mendapat sinyal.  Tidak jarang pula naik pohon. HP diletakkan di dinding rumah baru ada sinyal. Ada pula harus pontang panting ikut derasnya hembusan angin. Sebab hembusan angin jadi petunjuk adanya sinyal HP. Ada juga yang harus menunggu jauh malam seraya mengendap-endap di tebing jurang guna mendapat jaringan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

“Saya harus temani anak saya dan beberapa temannya. Saya jaga mereka karena pada larut malam di tebing jurang perbatasan dengan Ngada baru ada sinyal,” cerita Gregorius Baru Watar kepada kabarntt.co belum lama ini.

Menurutnya, tantangan bagi siswa-siswi di Elar dan Elar Selatan  tidak hanya ancaman Covid-19 tetapi juga proses belajar mengajar menggunakan sistem daring itu. Sebab jaringan telepon tidak punya. Harapannya  pemerintah bisa perhatikan warga Elar dan Elar Selatan.

Pos terkait